Cerita Cinta: Bab yang Tak Bisa Kau Tutup

 

Hujan turun perlahan di kota Malang malam itu. Lampu-lampu jalan memantulkan warna kuning pucat di genangan air. Di sebuah kafe kecil dekat sudut jalan, Yuki duduk diam sambil menatap layar laptopnya yang kosong. Kosong seperti hubungan yang baru saja berakhir.

 

“Aku capek sama kamu, Ki,” kata Naga waktu itu, dengan nada dingin yang bahkan lebih menusuk daripada bentakan. “Kamu terlalu biasa. Hidupmu gitu-gitu aja.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Yuki selama berminggu-minggu.

Terlalu biasa.

Padahal selama ini, dia selalu ada saat Naga jatuh. Mendengarkan mimpi-mimpinya. Menenangkan egonya. Menjadi rumah yang bahkan tak pernah dianggap penting.

 

Yang paling menyakitkan bukan perpisahannya. Tapi bagaimana Naga memandangnya seolah ia tak akan pernah menjadi siapa-siapa.

Malam itu, Yuki menutup laptopnya pelan lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri.

 

Stoikisme pernah mengajarinya satu hal:

Kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang memperlakukan kita. Tapi kita bisa mengontrol bagaimana kita bangkit setelahnya.

 

Sejak hari itu, Yuki berhenti mengejar penjelasan. Ia tidak lagi mengirim pesan panjang. Tidak lagi bertanya kenapa dirinya kurang. Tidak lagi menangis sambil berharap Naga kembali.

Ia memilih menulis. Semua rasa sakit yang selama ini ia pendam berubah menjadi paragraf demi paragraf. Tentang kehilangan. Tentang manusia yang merasa tak cukup berharga. Tentang cinta yang membuat seseorang lupa mencintai dirinya sendiri.

 

Ia menulis setiap dini hari saat kota tertidur. Sementara Naga sibuk dengan hidup barunya. Kadang Naga melihat unggahan Yuki di media sosial—fotokopi, buku, langit sore, dan kutipan-kutipan tenang yang terasa asing. Tak ada lagi gadis yang memohon untuk dipertahankan. Yang ada hanya perempuan tenang dengan mata yang tampak jauh lebih kuat.

 

Enam bulan kemudian, sebuah novel berjudul “Manusia yang Belajar Pergi” mendadak viral. Semua orang membicarakannya. Toko buku kehabisan stok. Kutipannya memenuhi internet. Banyak orang menangis setelah membaca halaman terakhirnya. Nama penulisnya?

Yukiko Alesandra.

 

Naga tertawa meremehkan saat pertama kali melihat nama itu di beranda media sosialnya.

“Nama mirip aja kali.”

Namun tawanya perlahan hilang ketika melihat wajah Yuki muncul di sebuah wawancara televisi. Perempuan yang dulu ia anggap “biasa” kini duduk dengan anggun di hadapan kamera. Tatapannya tenang. Cara bicaranya lembut namun penuh keyakinan.

“Banyak pembaca bilang novel ini terasa sangat menyakitkan,” kata pewawancara.

Yuki tersenyum tipis.

“Karena beberapa luka memang tidak perlu dibalas dengan kebencian. Kadang cukup dengan bertumbuh.”

Naga terdiam. Entah kenapa dadanya terasa sesak.

 

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naga membuka kembali chat lama mereka. Ia membaca semua pesan Yuki yang dulu ia abaikan. Tentang perhatian kecil. Tentang rasa takut kehilangan. Tentang usaha-usaha sederhana yang dulu terasa sepele. Tangannya gemetar.

 

Ia baru sadar… tidak semua orang akan mencintainya setulus itu.

Dan ia telah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar melihat dirinya bahkan saat dunia tidak peduli.

 

Beberapa hari kemudian, Naga datang ke acara penandatanganan novel Yukiko. Antrean panjang memenuhi toko buku. Banyak orang membawa bunga untuknya. Yuki terlihat berbeda. Bukan karena pakaian mahal atau makeup yang berlebihan. Tetapi karena ketenangan yang kini hidup di wajahnya.

 

Naga berdiri di depan meja tanda tangan sambil menggenggam novel itu erat. Yuki mendongak. Mata mereka bertemu. Sunyi. Untuk sesaat, Naga seperti kembali pada masa ketika perempuan itu selalu menatapnya penuh cinta. Namun kini tatapan itu berubah.

Tenang.

Tidak membenci.

Tapi juga tidak lagi membutuhkan.

“Aku bangga sama kamu,” ucap Naga pelan.

Yuki tersenyum tipis sambil menandatangani bukunya.

“Terima kasih.”

Hanya itu. Tidak ada pertanyaan kenapa ia pergi. Tidak ada air mata.

Tidak ada usaha untuk kembali. Naga menelan pahit di tenggorokannya. Kadang penyesalan terbesar bukan saat seseorang pergi. Melainkan saat kita sadar… mereka sebenarnya pernah rela tinggal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

Apalah Arti Menunggu? (written by Ary-sensei)