Cerpen Drama: Menunggumu di Setiap Hujan (Bagian 2)

 

Bagian 2: Yang Tertinggal dan Tak Bisa Kembali

Sudah hampir satu tahun sejak hari itu. Dito masih datang ke tempat yang sama setiap kali hujan turun–teras rumah, kursi kayu, dan secangkir teh yang sering kali dibiarkan dingin.

Orang-orang bilang waktu bisa menyembuhkan. Tapi tidak ada yang bilang... kalau waktu juga bisa membuat rindu semakin dalam.

Suatu sore, saat hujan turun lebih pelan dari biasanya, Dito melihat sesuatu yang berbeda. Seorang perempuan berdiri di ujung jalan, memakai payung transparan. Dan untuk sesaat... dunia seperti berhenti.

“Helda...? bisik Dito hampir tak percaya.

Perempuan itu melangkah mendekat. Wajahnya sama. Senyumnya hampir sama. Tapi matanya tidak lagi seperti dulu.

“Aku cuma sebentar,” kata Helda pelan.

Dito berdiri, langkahnya ragu.

“Kenapa kamu baru datang sekarang?”

Helda menunduk.

“Karena aku tidak seharusnya datang lagi”.

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menusuk pelan, tapi dalam.

“Aku sakit serius, Dit,” katanya. “Waktu itu... aku putus asa karena waktuku nggak lama lagi. Aku nggak mau kamu lihat aku pelan-pelan hilang”.

Dunia rasanya runtuh, tapi anehnya semua terasa sunyi.

“Kenapa kamu tidak memberiku alasan kepergianmu?” tanya Dito dengan perasaan pedih, tapi juga rindu.

“Aku bilang lewat surat,” jawab Helda, mencoba tersenyum, “walau mungkin itu tidak cukup”.

Hujan mulai berhenti dan Dito tahu waktu mereka juga berhenti.

“Aku kangen,” kata Dito akhirnya, suara yang sejak tadi ia tahan.

Helda menatapnya lama. Kali ini, matanya kembali seperti dulu–hangat, tapi penuh sesuatu yang tak bisa dimiliki lagi.

“Aku juga”.

Angin berhembus pelan. Dan seperti hujan yang akhirnya berhenti... Helda perlahan memudar dari pandangan Dito. Bukan pergi, tapi... benar-benar hilang. Helda hilang dalam lamunan Dito.

Sejak hari itu, Dito tak pernah lagi membenci hujan. Karena sekarang ia tahu bahwa hujan bukan tentang kesedihan, tapi tentang kenangan... yang datang sebentar lalu pergi... tanpa bisa diminta kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

Apalah Arti Menunggu? (written by Ary-sensei)