Cerpen Drama: Menunggumu di Setiap Hujan (Bagian 1)

 


Bagian 1: Hujan yang Tak Lagi Sama 

Hujan selalu punya cara untuk mengingatkan Dito pada Helda. Bukan karena mereka pertama kali bertemu saat hujan–bukan. Tapi karena setiap tetesnya terasa seperti kenangan yang jatuh satu per satu, tanpa bisa dihentikan.

Hari itu, di teras rumahnya. Dito duduk diam sambil menatap jalan yang basah. Tangannya menggenggam secangkir teh yang sudah dingin. Sejak Helda pergi, semua hal terasa kehilangan makna... bahkan hujan yang dulu mereka sukai bersama.

“Aku suka hujan,” kata Helda dulu, sambil tersenyum kecil. “Karena hujan itu jujur. Kalau dia sedih, dia jatuh”.

Dito waktu itu hanya tertawa. “Kalau gitu, aku harus sering-sering hujan biar kamu tahu aku lagi sedih”.

Helda menatapnya lama, tapi tidak tertawa. Seharusnya saat itu Dito sadar bahwa Helda tidak sedang bercanda. Sekarang, suara hujan terdengar lebih keras dari biasanya. Atau mungkin... hanya hati Dito yang terlalu sepi. Ia merindukan Helda.

Di dalam sakunya, masih ada surat terakhir dari Laila. Sudah lusuh, sudah berkali-kali dibaca, tapi tetap saja Dito belum pernah benar-benar berani menerima isinya.

Pelan ia membuka kertas itu lagi.

“Maaf aku pergi tanpa penjelasan panjang. Aku tahu kamu pasti marah. Tapi kali ini... aku tidak punya pilihan”.

Tangan Dito bergetar.

“Kalau suatu hari kamu membaca ini lagi saat hujan turun... mungkin itu berarti kamu masih mengingatku. Dan jujur saja... aku juga masih”.

Dito menutup matanya, mencoba menahan sesuatu yang sejak tadi ingin jatuh–lebih deras dari hujan di luar.

Kenapa Helda pergi dan kenapa ia tak ingin kembali?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

Apalah Arti Menunggu? (written by Ary-sensei)