Tak Sanggup Menjauh (written by Ary-sensei)
Entah sudah berapa kali aku mencoba menjauh darinya, dari cowok ganteng dan paling pintar di kelasku. Sikap cueknya kadangkala menjengkelkan, tapi entah mengapa seperti ada sebuah sensasi dalam hubungan kami yang makin tak jelas kemana arahnya. Semakin aku mencoba menjauh, rasa sesak lagi dan lagi memenuhi dadaku yang membuatku merasa hampa.
Semua berawal sejak tahun
lalu. Kami satu kelas di Jurusan Bahasa Inggris. Kalau boleh jujur, aku
tertarik padanya sejak Orientasi Pengenalan Kampus. Dia cowok ganteng yang tak
banyak bicara, tapi mampu membuatku menatapnya cukup lama tanpa kusadari.
Kadang saat mata kami bertemu, rasanya aku malu sekali. Mungkin dia
menyadarinya, tapi tak pernah beraksi sesuai ekspektasiku.
Enam bulan pertama, aku hanya
memendam rasa sampai suatu hari kami benar-benar ngobrol di acara kampus. Saat
itu ada kegiatan api unggun dan kebetulan kami duduk bersebelahan.
“Hai Ndre, belum ngantuk?”
tanyaku basa-basi. Dia melihat ke arahku dan tersenyum, “Belum. Kamu?”
tanyanya. Tiba-tiba aku menguap, bukan pura-pura menguap tapi memang aku mulai
mengantuk. “Lumayan,” jawabku. Beberapa saat hening diantara kami, mungkin sibuk
mencari pertanyaan apa lagi untuk mencairkan suasana. “Kamu gak bareng Tari?”
tanyanya kemudian. Aku menggeleng, “Tari sudah tidur duluan. Kegiatan hari ini
cukup melelahkan ya?” Dia melihat ke arahku sebentar lalu mengalihkan
pandangannya ke arah api unggun, “Ya, cukup bikin tulangku protol semua.”
Kalimat itu membuatku tiba-tiba tertawa lepas. Akhirnya kami bisa ngobrol lebih
akrab sambil sesekali tertawa tanpa menyadari malam semakin larut.
Sejak hari itu, kami sering
saling menyapa kalau bertemu di kelas atau membahas tugas-tugas kelas. Kami
memang jarang satu kelompok tapi dia teman yang asyik untuk belajar bersama.
Kadang kami belajar di kafe tak jauh dari kampus sambil makan siang atau sekedar
nongkrong. Otaknya yang pintar itu benar-benar membuatku ingin tak terlihat
bodoh di depannya.
Waktu pun berlalu. Ternyata
kami tetap sekelas di semester 3. Tugas-tugas kuliah semakin menantang. Bukan
hanya banyak, tapi juga mulai susah. Aku sering mengajak Andre belajar bersama
dan dia tidak pernah menolak. Kami pun semakin akrab dan mulailah bersemi satu
rasa aneh di hatiku. Aku tak yakin dia merasakan hal yang sama, tapi tiap kali
aku bertemu dengannya, jantungku berdetak lebih kencang. Aku rasa semuanya
berubah menjadi cinta, tapi aku takut mengakuinya, lebih tepatnya takut
ditolak.
Tak pernah ada kata “pacaran”,
kami hanya dekat dan makin akrab. Aku takut menganggap semua ini lebih. Hingga
suatu hari aku melihatnya di tempat parkir bersama seorang cewek. Mereka
terlihat akrab. Sesekali cewek itu terlihat manja dengan mencubit lengan Andre
dan Andre membalasnya dengan tawa ringan. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang,
ada rasa kesal menyeruak ketika melihat apa yang terjadi. Aku baru menyadari
bahwa aku cemburu, tapi mataku masih memperhatikan mereka berdua dari jarak
jauh. Mereka pun berboncengan meninggalkan kampus.
Ingin rasanya aku menangis
karena kesal, karena cemburu. Tapi itu juga bukan salah Andre karena kami tak
pernah membahas cerita pribadi kami masing-masing. Tiap kali kami bertemu hanya
untuk belajar bersama dan mengerjakan tugas kuliah. Tapi kenapa aku merasa
begitu cemburu?
Sejak itu, hatiku berkata,
“Mungkin lebih baik aku menjauh.” Tapi kenyataannya, semua itu tak mudah. Tiap
kali aku mencoba menjauh, hatiku terasa sepi, dadaku terasa sesak. Aku terus
mencoba melupakan rasa dalam hatiku, bahkan aku meminta pada Tuhan, “Ambillah
rasa ini agar aku tak terluka.” Rasa ini bukannya hilang, justru semakin besar.
Entah kapan waktu itu datang,
aku terus berusaha melupakan. Aku tahu suatu hari rasa itu akan hilang.
Sesekali aku masih curi pandang ke arahnya di tengah kegiatan kuliah. Wajah itu
selalu saja menggetarkan hatiku. Apa yang kutemukan di ekspresi wajahnya setiap
kali tatapan mata kami bertemu? Wajah yang biasa saja, datar saja, seperti
tidak ada rasa dan itu menyakitkan buatku. Ingin aku membohongi diriku bahwa
rasa ini benar, tapi tiap kali kulihat ekspresi datar itu, akhirnya aku
berbisik, “Lupakan saja.” Jika rasa ini hanya aku yang punya, aku harap suatu
hari aku sanggup menjauh.
- TAMAT
-

Komentar
Posting Komentar