Si Anak Basket (written by Ary-sensei)
Pertandingan basket hampir dimulai. Sport hall kampus STIBA mulai riuh, penuh dengan penonton yang sebagian besar anak-anak SMA dan SMK yang mengikuti STIBA BASKETBALL TOURNAMENT 2024. Semua panitia dan petugas yang bertugas di lapangan sudah siap di posisi mereka masing-masing. Karena 4 tim akan bertanding hari ini, pertandingan pertama dimulai jam 15.30.
Aku siap dengan kamera di tanganku. Untuk kesekian kalinya aku menjadi bagian dari tim Dokumentasi bersama Nanda yang sudah siap dengan Handycam dan Rendy yang sudah siap dengan kameranya untuk bagian Youtube live streaming. Aku melirik ke arah Hiroshi yang hari itu menjadi komentator pertandingan. Seperti biasa, dia terlihat sporty dan ganteng sekali. Kekagumanku padanya dimulai sejak kami berada di UKM Basket ini, sering ngobrol dan berbagi pengalaman. Selain jago basket, dia juga keren sebagai komentator pertandingan.
MC mengumumkan bahwa pertandingan akan segera dimulai. Semua penonton berdiri untuk menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ sebelum MC memperkenalkan tim yang akan bertanding di pertandingan pertama itu. Rangkaian pembukaan pun berlangsung dengan khidmat, dan mulailah pertandingan tepat jam 15.30. Hiroshi pun beraksi dengan komentar-komentarnya yang menyegarkan dan membuat pertandingan itu semakin seru. Aku dan tim Dokumentasi terus bergerak mencari angle foto dan momen yang bagus. Sesekali mataku melirik ke arah Hiroshi yang semangat memberikan komentar.
Babak pertama berlalu dan diberikan istirahat 2 menit. Aku, Nanda, dan Rendy bertemu di sudut ruangan. Rendy mengatur kembali kameranya untuk live streaming babak kedua. Begitu pula Nanda, dia sibuk melihat hasil rekaman dan sesekali kami bertiga berdiskusi bagian-bagian video mana yang harus diedit. “Eh Niken, hasil jepretanmu aman?” tanya Nanda. “Aman,” jawabku. “Ren, kamera keduamu sudah di-charge,” tanya Nanda pada Rendy yang masih sibuk dengan kameranya. Rendy mengacungkan jempol. “Punyamu Ken?” tanya Nanda padaku. “Aman,” jawabku tersenyum. Nanda memang perfeksionis saat bertugas, tapi sangat menyenangkan bisa satu tim dengannya. Babak kedua pun akan segera dimulai. Kami bertiga mulai atur posisi.
Waktu berlalu dan pertandingan hari itu pun usai. Para petugas berkumpul di ruang khusus, panitia sibuk dengan bagian masing-masing. Tim Dokumentasi pun mulai membereskan semua peralatan kami yang ada di ruang tim Dokumentasi. “Aiiiihhhh capeknya,” kata Rendy sambil merebahkan tubuhnya yang letih di kursi. Aku memberinya sekotak kue dan sebotol air mineral, dia menerimanya dengan senyuman. “Eh kalian jangan buru-buru, aku capek banget ini,” kata Rendy sambil memakan sepotong kue. “Iya…iya, aku tahu hari ini kita capek banget. Mana nih bagian Konsumsi, laper,” sahut Nanda. Tak lama muncullah Hiroshi dengan empat kotak nasi. “Loh kok kamu yang bawain, Ro?” tanyaku heran. Hiroshi tersenyum. “Kasihan bagian Konsumsi, mereka masih membagi konsumsi ke panitia, para petugas dan dosen-dosen yang hadir. Lumayan juga banyak dosen yang nonton,” kata Hiroshi. “Iiihhh keren …!” sahutku. Kami pun makan bersama di ruangan itu.
“Ken, nanti kamu pulang sama siapa?” tanya Hiroshi. Aku berpikir sebentar, “Mungkin naik ojek aja.” “Pulang sama aku aja ya, aku ada janji sama teman. Searah rumahmu. Aku bawa helm kok, tenang aja,” tawarnya. Aku mengangguk, “Thanks.” Aku memasukkan kamera dan beberapa barang ke dalam tasku. Sebenarnya itu hanya alasan untuk menutupi perasaanku yang sangat senang. Jarang sekali Hiroshi menawarkan pulang bersamanya. Siapa sih yang gak mau bareng dia yang ganteng, wangi, baik pula. Aku lihat Hiroshi juga membereskan beberapa barangnya di meja tempat dia tadi bertugas, dan tak lama dia sudah ada di dekatku. Kami pun berjalan bersama menuju tempat panitia berkumpul.
Hiroshi ini anak Indo Jepang. Ayahnya dari Jepang dan ibunya dari Semarang. Hiroshi ada di kota ini sejak dia SMP, karena ayahnya yang awalnya bekerja di Semarang pindah kerja di kota Malang. Sudah jam 21.00 saat kami harus pulang. Rasa letih benar-benar terasa. Hiroshi sudah menungguku di gerbang kampus dan dengan tak sabar aku membonceng. Dalam perjalanan menuju rumahku, kami pun mengobrol. Rasanya aneh kalau saling diam selama perjalanan. Aku pun memulai obrolan. “Kamu tadi keren banget loh Ro. Belajar dari mana bisa kasih komentar sekeren itu?” Dia menjawab, “Aku kan senang basket. Dari kecil aku sering nonton pertandingan basket di TV, kadang juga diajak papaku nonton pertandingan basket. Nah, selain aku suka main basket, aku juga tertarik jadi komentator, trus aku belajar sendiri. Nah, di UKM Basket ini sih baru bisa berkembang.” “Ih kereeen,” kataku memuji.
Sampai juga di rumahku yang sederhana. “Eh Ken, mau gak kalau pas ada latihan basket kamu ikut latihan?” tanyanya. “Ehm … pengen sih, tapi aku sekedar bisa. Malu sama coach dan teman-temanmu. Kalian kan sudah pro,” jawabku. “Ah … gak apa-apa, datang aja. Kalau kamu malu sama coach atau teman-teman, nanti aku aja yang ajarin. Oke?” Aku pun mengangguk ragu, “Let’s see. Sudah sana, temanmu pasti sudah nunggu,” kataku mengakhiri obrolan kami hari itu. Hiroshi melambaikan tangan dan memacu motor Vario-nya.
Dua hari berlalu, tiba-tiba Hiroshi mengirim pesan WA pagi itu, “Nanti malam ikut latihan basket ya, aku tunggu. Sekalian aku antar pulang.” Siapa sih yang tidak senang dengan tawaran itu? Aku pun pamit ayah ibuku kalau ikut latihan basket setelah kuliah dan mereka tidak perlu khawatir aku pulang dengan siapa. Ayah ibu juga sudah kenal Hiroshi, jadi aman. Hari Selasa kali ini terasa menyenangkan. Jadwal kuliah yang tidak terlalu padat, membuatku bisa leluasa berdiskusi dengan teman-teman di ruang UKM Basket, sekalian aku menyerahkan foto-foto yang sudah diseleksi. Ketua memuji hasil fotoku dan akan segera memajang beberapa foto di Instagram. “Ken, nanti malam ngapain?” tanya Nanda. “Ehm … aku mau ikut latihan basket,” jawabku tersipu. “E??? Tumben?” Nanda terbelalak. Aku tertawa. “Sekali-sekali lah, biar badanku sehat juga,” jawabku santai. “Aku tak percaya,” goda Nanda, “Sepertinya kau sedang mengincar mangsa.” Aku terbahak, “Mangsa? Kau pikir aku harimau yang kelaparan? Ada saja kamu ini,” jawabku sambil mencubit lengannya. “Pulang sama siapa?” tanyanya lagi. Aku berbisik, “Hiro.” Aku meletakkan telunjukku di bibir, tapi Nanda terbahak, “Nah, ketahuan siapa mangsanya. Bahaya!” katanya. “Huuussssshhhh,” aku menyuruhnya diam.
Tiba-tiba Hiroshi mengirim pesan WA, “Meet me at the library”, tulisnya. Aku segera berpamitan pada teman-teman yang lain. Nanda lagi dan lagi menggodaku, karena gemas aku cubit lengannya. Dia mengaduh kesakitan. Aku segera berlari ke perpustakaan dan menemukan Hiroshi di sudut ruangan. “Hai,” sapaku. “Hai. Sorry, aku minta kamu ke sini. Aku menemukan buku tentang basket, barangkali kamu ingin membacanya,” katanya. Aku membaca beberapa halaman buku itu, “Oke, aku akan membacanya. Thanks sudah menemukan buku ini buat aku,” kataku geer. Hiro hanya tersenyum. “Nanti malam jadi?” tanyanya. “Oke, boleh. Aku sudah izin orang tuaku. Jam berapa latihannya?” Rasanya aku menjadi bersemangat untuk ikut latihan. “Jam 19.00, biasanya sampai jam 21.30.” “Waduh, malam juga ya?” aku mulai ragu. “Tenang … kan ada aku yang anter pulang,” kata Hiroshi. “Yaaa … jangan sering-sering kalau aku Ro, bisa kena damprat ayah ibuku kalau sering pulang malam,” kataku. “Siip.” Hiroshi mengacungkan jempolnya.
Kuliah sore ku berakhir jam 18.00, aku segera sholat Magrib, setelah itu menemui Hiroshi di sport hall. Masih sepi. Hiroshi sedang asyik main basket sendiri, melatih shooting ke ring. Saat dia mendengar langkahku, dia menoleh, “Hai…ayo sini!” Aku segera meletakkan tas, mengikat tali sepatuku, dan melangkah mendekatinya. Tiba-tiba dia passing bola ke arahku, syukurlah aku sigap menerima. Dia tersenyum. “Dribble bolanya terus shoot,” pintanya. Aku menggiring bola itu dan coba memasukkannya ke ring, tapi ternyata tembakanku meleset. Hiroshi mengejar bola yang keluar lapangan, lalu mengajarkanku bagaimana cara shooting yang benar. Agak lama kami berlatih berdua, satu per satu anak-anak basket berdatangan, begitu juga coach. Hiroshi memperkenalkanku pada coach dan berkata kalau aku sesekali saja ikut latihan. Malam itu, aku berlatih bersama anak-anak basket. Seru sekali.
Jam 21.30 Hiroshi mengantarku pulang, dan sejak itu kami makin akrab. Sering bertemu di perpustakaan untuk membahas tugas-tugas kuliah, terkadang aku ikut latihan basket dan dia sangat senang mengajarkan teknik-teknik yang belum aku kuasai. Kekaguman kepadanya semakin dalam, entah hanya kagum ataukah cinta, aku tak tahu. Hingga sesuatu terjadi.
Siang itu, ketika Hiroshi dan aku sedang duduk di bangku taman sambil membahas kegiatan basket, tiba-tiba seorang gadis berdiri di depan kami. Hiroshi melihat ke arahnya dan terkejut, “Rin, ngapain di sini?” Hiroshi melihat ke arahku dengan ekspresi terkejut dan kikuk. Aku memandang ke arah gadis itu, lalu Hiroshi, “Siapa?” tanyaku. Gadis itu tersenyum ke arah Hiroshi, “Aku pengen ketemu kamu. Aku baru datang tadi malam dan ingin memberimu kejutan,” katanya. Hiroshi buru-buru berdiri dan memperkenalkan gadis itu. “Ini Rinda, pacarku. Dia kuliah di Jakarta.” Pasti aku kaget, dan mungkin ekspresiku tertangkap gadis itu. Dia berlari kecil ke arah Hiroshi dan memeluknya di depanku. Hiroshi sepertinya agak risih karena Rinda memeluknya di kampus, mungkin beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Hiroshi melepaskan pelukan Rinda, lalu berkata, “Ini Niken, anak basket,” ujarnya memperkenalkanku. Dengan ragu kuulurkan tangan dan memperkenalkan diri. “Sorry ya Ken, aku pergi dulu,” kata Hiroshi dengan kikuk. Aku mencoba tersenyum, masih dalam keadaan kaget.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Hiroshi saat mereka ada di kantin. “Aku pulang karena ada saudaraku yang besok menikah. Aku sengaja tidak memberitahumu, ingin memberi kejutan saja,” jawabnya ringan. “Ya tapi jangan peluk di kampus, kan aku malu banyak yang lihat.” Hiroshi bersungut-sungut kesal. “Maaf … maaf. Aku terlalu senang bertemu kamu,” jawabnya. “Tadi itu siapa?” tanyanya. Hiroshi mengalihkan pandangannya ke pesanan nasi gorengnya, “Teman basket.” Dia berusaha menjawab dengan sedatar mungkin. “Bukan pacar kan?” goda Rinda. Hiroshi langsung membelalakkan matanya. “Maaf,” sesal Rinda.
Di dalam kelas, aku merasa sedih. Entah apa yang kurasakan. Sedih, patah hati, atau apa? Ternyata Hiroshi sudah punya pacar. Hiroshi tidak pernah membicarakannya, jadi rasanya tidak salah kalau aku merasa sangat dekat beberapa waktu terakhir. Kuhela nafas, ‘Mungkin sebaiknya aku menganggapnya teman saja agar hatiku tak terluka.’ Setelah pertemuan dengan Rinda hari itu, aku tidak melihatnya seharian. Hiroshi juga tidak mengirimkan pesan seperti hari-hari sebelumnya, mungkin mereka menghabiskan waktu bersama. Kutepis perasaanku dan mencoba fokus pada kuliah dan tugas-tugas yang harus segera diselesaikan.
Dua hari kemudian, Hiroshi muncul di hadapanku saat berada di perpustakaan. Saat itu aku sedang mengerjakan tugas membuat makalah. “Hai,” sapa Hiroshi sambil duduk di hadapanku. “Hai,” balasku sambil tersenyum. “Ehm … maaf ya, aku sudah mengacaukan semuanya,” kata Hiroshi. “Hem? Maksudnya?” balasku heran. “Selama ini aku tak pernah menceritakan pacarku padamu, ya aku pikir itu kan masalah pribadi. Tapi aku sangat malu dan merasa bersalah ketika dia tiba-tiba muncul dihadapan kita hari itu. Aku minta maaf ya,” sesalnya. “Ah … aku santai saja. Jangan merasa bersalah. Itu kan memang masalah pribadimu, jadi untuk apa aku harus tahu,” jawabku berusaha menguasai perasaan. “Baiklah kalau kamu merasa begitu. Itu melegakanku. Kita masih berteman kan?” tanyanya lagi. Aku tersenyum, “Memangnya kita pernah musuhan? Sudahlah jangan pikirkan lagi. Aku sedang fokus pada tugas makalah sekarang.” Hiroshi menggeser duduknya di sebelahku, “Boleh aku bantu?” tanyanya seakan itu sebuah permohonan maaf atas kejadian kemarin. Aku pun mengangguk.
Hari demi hari pertemanan kami semakin dekat, tapi bagiku dia hanya teman yang sangat aku kagumi. Kami memang sering bersama seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin Hiroshi juga mengagumiku. Dia pernah berkata menyukai gadis yang suka basket. Pacarnya memang cerdas dan suka hal-hal akademis, tapi sama sekali tidak suka olahraga, apalagi basket. Itulah kenapa Hiroshi suka berlatih basket bersamaku. Tapi bukan berarti aku harus jadi kekasihnya, kan? Jadi biarlah hubungan kami tetap seperti ini, kami dekat sebagai teman atau sahabat saja.
TAMAT

Komentar
Posting Komentar