Ketukan di Pintu Malam Itu (written by Henny)
“Haatchuuh!” Alex bersin sampai tisu di meja ikut terbang. Andin, yang mendengar dari dapur, langsung panik. Ia berlari membawa sendok kecil berisi obat cair. “Bang, minum ini dulu, please.”
Alex menghela napas berat. “Din, abang cuma masuk angin biasa. Nggak perlu drama.”
Andin berkacak pinggang. “Masuk angin apa? Bersinnya kayak mau manggil setan!”
Meski awalnya menolak, akhirnya Alex pasrah disuapi. Ia meringis ketika rasa pahit menyentuh lidahnya. Andin menepuk punggungnya bangga. “Tuh kan. Nggak mati juga.”
Mereka berdebat kecil, dan tepat di tengah adu mulut—“Haatchuuh!!” kini giliran Andin bersin keras. Entah karena droplet pertengkaran mereka, entah karena Andin lupa pakai masker, yang jelas… beberapa jam kemudian mereka berdua tumbang demam.
Riko menemukan keduanya terkapar lemas di kamar. “Wah… sakit massal. Mantap.”
“Diam, Rik…” Alex melotot lesu.
Bu Yem—yang biasanya hanya dipanggil dua minggu sekali untuk bersih-bersih—akhirnya turun tangan merawat tiga bocah yatim piatu itu. “Minum obatnya. Cepat sembuh ya semua,” ujarnya lembut sambil menepuk kepala Andin.
Anehnya, kalau sama Bu Yem mereka semua jadi penurut. Mungkin karena wanita tua itu sudah seperti pengganti ibu mereka sejak hari kecelakaan itu terjadi. Hari ketika dunia mereka berubah selamanya.
Malam hari, ketika demam mereka mulai turun, suasana rumah tiba-tiba berubah. “Tok tok tok.”
Ketukan itu pelan, tapi jelas. Alex mendongak. “Din, kamu dengar?”
Andin menyembunyikan diri di balik selimut. “Abang aja yang buka!”
“Kalian… kenapa harus capek begini? Kalian masih sekolah…”
“Terima kasih… tapi abang nggak mau kalian kehilangan masa remaja kalian. Belajarlah. Bermainlah. Biar abang yang kerja.”
Dalam hati ia bergumam:
bukan tentang tidak pernah takut…tapi tentang saling menggenggam tangan ketika dunia menjadi gelap.
Alex berjalan ke pintu dengan langkah hati-hati. Riko menyodorkan sapu. “Buat jaga-jaga. Kalau itu hantu, pukul aja, Bang.”
“Riko… itu sapu. Hantu nggak alergi sapu.”
“Hantu takut debu, Bang!” Riko membalas yakin.
Alex membuka pintu perlahan. Kosong. Hanya angin dingin yang mengusap pipinya. Lalu ia melihatnya—secarik kertas putih terselip di lantai.
Tulisannya terburu-buru: “Jangan sok jadi pahlawan. Kamu nggak sehebat itu.”
Andin menelan ludah. “Bang… kenapa kayak ancaman beneran?”
Sejak hari itu, ketukan demi ketukan terus datang. Selalu malam. Selalu hanya kertas. Selalu bernada sinis dan menyerang.
Dan pada suatu malam, rumah mereka meredup. Lampu berkedip. Riko menjerit paling keras di antara semuanya. “Aaaa! Aku belum mau mati muda!”
Alex sebenarnya takut, tapi ia tidak bisa menunjukkannya. Ia kakak tertua. Ia harus kuat.
Namun sosok misterius itu… terus mengintip dari balik pagar rumah. Menunggu. Mengamati.
Esok paginya, Alex berangkat kerja lebih cepat. Pabrik kargo tempatnya bekerja sudah ramai. Tapi suasana terasa aneh. Terutama ketika ia melihat Bima—rekan kerjanya yang akhir-akhir ini bersikap sinis.
“Pagi, Bim.”
“Pagi si anak emas,” gumam Bima tajam.
Nada itu… nada yang sama dengan surat ancaman.
Saat jam istirahat, Alex memberanikan diri mengajak Bima bicara di belakang gudang.
“Bim, aku mau tanya… kamu kenapa marah sama aku?”
“Aku nggak marah.”
“Kamu… kelihatan banget marah.”
Bima menghela napas kasar. “Karena semua orang suka sama kamu, Alex. Kamu kerja bagus, atasan percaya, adik-adikmu cinta sama kamu. Sementara aku? Pulang sendirian ke rumah kosong. Bekerja tanpa ada yang peduli. Dan kamu… selalu lebih baik dari aku di sini.”
Kata-kata itu bukan hanya iri—itu adalah luka.
Alex terdiam sejenak sebelum menepuk bahu Bima dengan lembut. “Aku juga capek, Bim. Aku juga takut. Aku merawat adik-adikku sejak SMA. Aku kehilangan orangtuaku dalam semalam. Aku bekerja bukan karena aku hebat… tapi karena aku harus.”
Bima menunduk. Matanya memerah. “Aku cuma… pengen kamu ngerasain sedikit ketakutan. Biar kamu tahu rasanya sendiri.”
“Jadi… kamu yang kirim surat itu?”
Pelan, Bima mengangguk.
Alih-alih marah, Alex justru tersenyum tipis. “Bima… kalau kamu butuh teman, jangan kirim ancaman. Bilang aja. Kita makan bakso bareng.”
Bima tersentak. “Serius?”
“Serius. Tapi traktir seminggu penuh.”
Bima akhirnya tertawa kecil. Untuk pertama kalinya… tulus.
Beberapa hari kemudian adalah hari ulang tahun Alex. Rumah tampak gelap—aneh. Tapi begitu ia masuk…
“TARAAAA!!!”
Andin, Riko, dan Tika meniup terompet sambil menyalakan lampu. Meja sudah dipenuhi kue kecil seadanya yang mereka beli dari tabungan pribadi.
Alex mematung. “Kalian… bikin ini?”
Andin menyerahkan amplop berisi uang lumayan banyak. “Ini buat abang.”
Alex terbelalak. “Din… Rik… uang sebanyak ini kalian dapat dari mana?”
“Aku bikin gelang dan aksesoris. Riko bantu jual di medsos,” jawab Andin.
“Aku juga ikut affiliate, Bang,” sahut Riko sambil nyengir.
Air mata Alex langsung jatuh tanpa bisa ia tahan.
Andin menggenggam tangan kakaknya. “Karena abang jauh lebih capek daripada kami.”
Riko mengangguk. “Abang kerja siang malam. Kami cuma mau bantu sedikit. Biar abang nggak berdiri sendirian terus.”
Alex menarik keduanya ke dalam pelukannya. Bahunya bergetar.
“Tapi kita keluarga, Bang,” bisik Andin.
“Keluarga itu… saling jaga.”
Alex menangis sambil tertawa. “Dasar kalian…”
Malam itu, mereka menonton film bersama, makan camilan, bercanda, dan tertawa sampai perut sakit. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu… rumah itu terasa hidup.
Hangat. Ramai. Aman.
Alex duduk di jendela malam itu, menatap bulan yang bersinar lembut.
“Selama aku hidup… mereka tidak akan pernah merasa sendirian lagi.”
Dan di luar sana, dari balik pagar, seseorang ikut tersenyum tipis—Bima yang kini datang bukan sebagai ancaman, tapi sebagai keluarga baru.
Keluarga kecil itu akhirnya mengenal arti sebenarnya dari kekuatan:
—TAMAT—
.jpg)
Komentar
Posting Komentar