Ketika Langit Menata Hati (written by Ary-sensei)
Namaku Nara. Sejak
SMA, aku punya kebiasaan aneh—aku suka sekali baca ramalan zodiak dan shio.
Bukan sekadar iseng; aku benar-benar percaya bahwa kecocokan hubungan bisa
dilihat dari bintang dan tahun kelahiran. Mungkin karena aku tumbuh dengan
trauma. Kedua orang tuaku selalu bertengkar, saling menyalahkan, sampai
akhirnya berpisah dengan cara yang meninggalkan luka dalam di hatiku.
Sejak itu, aku
bertekad: aku ingin suami yang sempurna. Bukan seratus persen tanpa
cacat, tapi yang benar-benar cocok denganku. Menurut banyak artikel yang
kubaca, pasangan paling cocok untuk zodiakku—Virgo—adalah Pisces. Dan menurut
perhitungan shio, yang paling bagus adalah Ular Tanah. Mungkin kedengarannya
konyol, tapi buatku itu seperti jaminan kecil bahwa pernikahanku nanti akan
jauh lebih baik dari pernikahan orang tuaku.
Masalahnya… hidup tidak semudah
ramalan online.
Aku mencari
bertahun-tahun, tapi tidak pernah bertemu seseorang yang memenuhi semua “syarat
semesta” itu. Setiap kali ada cowok mendekat, hal pertama yang kutanya pasti: “Kamu
lahir tanggal berapa?” Kalau bukan Pisces, aku langsung menjauh sebelum
sempat dekat. Aku takut mengulang trauma.
Aku takut mencintai orang yang salah.
Aku takut hancur seperti ibuku.
Hingga hari itu datang…
Aku mengikuti
seminar kecil di kampus tentang pengembangan diri. Aku duduk di barisan tengah
tanpa ekspektasi apa pun, sampai seorang cowok masuk dan duduk di kursi kosong
di sebelahku. Aku sempat menoleh, lalu hatiku hampir berhenti.
Dia ganteng. Bukan
yang pamer-pamer pesona, tapi tipe yang punya kedewasaan di sorot matanya.
Wajahnya lembut, tapi caranya duduk, cara ia memperhatikan sekitar, semuanya
terlihat… tenang. Dan entah kenapa, ketenangan itu menular padaku. Namanya
Alvan.
Selama seminar
berlangsung, ia beberapa kali mengajakku komentar kecil. Humornya cerdas dan
tidak berlebihan. Setelah acara selesai, kami berjalan pulang bersama. Dan
jujur saja, selama itu, hatiku bergetar dengan cara yang bahkan zodiak tidak
pernah bisa jelaskan.
Ketika akhirnya
aku memberanikan diri bertanya tanggal lahirnya, aku hampir pingsan.
“Aku lahir 4
Februari,” katanya.
Aku terdiam. Itu
berarti… Aquarius. Bukan Pisces.
“Aku juga lahir
tahun Kuda,” tambahnya sambil tertawa kecil.
Dan lengkap sudah—bukan Ular.
Hancur.
Galau.
Pusing.
Di satu sisi, aku
merasa menemukan seseorang yang membuat hatiku tenang, rasanya seperti pulang.
Tapi di sisi lain, aku ingat janjiku pada diriku sendiri: Aku tidak mau
mengulang masa lalu orang tuaku. Aku butuh pasangan yang “cocok” menurut
tanda lahir, bukan menurut perasaan.
“Kenapa mukanya
langsung pucat gitu?” tanya Alvan sambil tertawa.
Aku hanya menggeleng. “Nggak… cuma…
dingin.”
Padahal jantungku sedang berperang.
Hari-hari setelah
itu seperti siksaan. Alvan makin sering menghubungiku. Dia selalu datang di
saat aku butuh, seolah tahu kapan aku rapuh. Dia mendengarkan ceritaku tanpa
menghakimi. Dia mengerti kecemasan-kecemasanku. Dan dia selalu punya cara
membuatku merasa aman.
Aku benci
kenyataan bahwa dia bukan Pisces. Aku benci bahwa dia bukan Ular Tanah. Tapi
aku lebih benci kenyataan bahwa…Aku mulai jatuh cinta.
Dalam-dalam.
Diam-diam.
Takut-takut.
Batinku
berkecamuk setiap malam. “Kalau aku salah pilih, bagaimana? Kalau kami tidak
cocok? Kalau aku gagal lagi seperti orang tuaku?” Trauma itu menggigit terlalu
keras.
Sampai akhirnya
suatu sore, saat kami duduk berdua di teras café, aku memberanikan diri jujur.
“Alvan…” nafasku
bergetar, “aku… sebenarnya ingin pasangan yang zodiaknya Pisces dan shionya
Ular Tanah.”
Alvan menatapku lama. Tidak marah.
Tidak tersinggung. Hanya… sedih yang lembut.
“Jadi menurut
kamu… aku nggak cocok ya?” suaranya pelan.
Aku menunduk. “Aku takut,” kataku. “Takut mengulang masa lalu.”
Ia menarik napas,
lalu berkata kalimat yang membuat duniaku berhenti:
“Kalau cinta
sesederhana zodiak dan shio… orang tuamu pasti sudah bahagia, Nar.”
Aku langsung
meneteskan air mata. Bukan karena marah—tapi karena kata-katanya menyentuh luka
yang paling kusimpan dalam.
Alvan melanjutkan,
“Cocok itu bukan dilahirkan… tapi dibangun. Dan aku… kalau diizinkan… aku mau
bangun itu sama kamu. Pelan-pelan. Seumur hidup.”
Dadaku sesak. Tangisku makin pecah.
“Kenapa kamu
ngomong kayak gitu…?” bisikku sambil menahan isak.
Alvan tersenyum—senyum paling tulus
yang pernah kulihat.
“Karena aku sayang
sama kamu, bukan sama tanggal lahirmu.”
Dan malam itu, untuk pertama
kalinya, aku sadar…
Selama ini aku
menatap langit, berharap bintang yang menuntunku. Padahal, Tuhan mengirim
seseorang yang membuatku merasa aman tanpa perlu tanda apa pun. Aku menatapnya
kembali, dengan mata yang masih basah.
“Kalau aku kasih
kesempatan… kamu janji nggak akan pergi?”
Alvan mengangguk
mantap. “Justru aku berharap kamu yang jangan pergi dari hidupku.”
Dan untuk pertama
kalinya dalam hidup, aku memilih berdasarkan hati—bukan ramalan.
Aku menggenggam tangannya.
“Mungkin… ini cara
semesta bilang, jodoh itu bukan dicari dari zodiak… tapi dari keberanian untuk
saling memilih.”
Dan malam itu, aku
tahu: Untuk pertama kalinya sejak kecil… aku tidak takut lagi mencintai
seseorang.

Komentar
Posting Komentar