Jalan Pulang (written by Henny)

 




  Malam itu jalan kampung yang sepi mendadak berisik. Motor bebek dengan knalpot “bleyer” meraung kencang, mengoyak angin malam. Reno berdiri di atas jok motornya, tertawa keras, seperti orang yang hidup tanpa rem. “Gaspol, bro! Hidup cuma sekali!” teriaknya sendiri. 

  Anak ini sudah capek diomelin orang. Geng motor lawan polisi, tetangga, bahkan ibunya sendiri. Reno terkenal berandalan. Jadi ketua geng yang suka tawuran, taruhan motor, oplosan, sampai bikin rusuh pasar malam, semua sudah dicobanya. 

  Namun malam itu berbeda. Reno sedang kabur dari sekelompok anak geng lawan yang tak terima markasnya dilempar batu olehnya. Motor-motor menderu di belakang, teriakan penuh dendam makin mendekat. Reno panik. Ia belok ke gang kecil, tapi sial, motor bututnya tiba-tiba mogok. “Sialan!” umpatnya.

   Ia mencoba menyalakan mesin, tapi percuma. Dari kejauhan, deru motor musuh semakin dekat. Reno menoleh ke kanan, dan… dilihatnya ada beberapa orang sedang membaca mushaf di dalam masjid. “Masa aku harus lari ke masjid? Bisa-bisa malah dikuliahin sama mereka semua,” pikirnya. Tapi karena musuh semakin dekat, dia pun nekat. 

   Ia langsung membawa motornya ke arah masjid, menyembunyikan motor itu di balik bangku panjang, lalu dia masuk ke dalam masjid di bilik cewek. Seorang gadis terkejut melihat Reno masuk dan bersembunyi di dekat lemari mukena. “Eh, mas… kenapa sembunyi di sini?” suara cewek itu lembut tapi jelas. “Diam! Jangan ribut, gue lagi dikejar orang!” bisik Reno, ngos-ngosan. 

   Cewek itu menutup mushaf, mengangguk dan tetap tenang. Reno masih ngos-ngosan di balik bangku, keringat dingin menetes dari pelipis. Ia melirik gadis itu yang tetap tenang berdoa. “Kamu sering dikejar orang?” tanya gadis bernama Azra itu setelah ia selesai berdoa. Reno terdiam, lalu pura-pura nyengir. “Heh, nggak usah sok tahu. Gue ketua geng, ngerti nggak? Biasa lah, musuh banyak.” Azra menatap Reno tanpa gentar. “Kalau musuhmu manusia, gampang lari. Tapi kalau musuhmu diri sendiri, mau sembunyi dimana?” Ucapan itu membuat Reno terdiam. Dadanya terasa sesak. Belum pernah ada yang berani bicara begitu padanya. 

   Tiba-tiba dari ujung gang terdengar suara motor meraung. Reno mendongak, panik. “Sial, mereka balik lagi!” Ia berdiri, siap lari. Tapi Azra justru tetap duduk tenang sambil berkata, “Kalau kamu cuma lari, sampai kapan pun mereka akan terus ngejar.” Reno menatap Azra, bingung sekaligus jengkel. “Mbak, ini bukan waktunya ceramah! Nyawa gue lagi di ujung tanduk!”   Deru motor makin jelas, lampu sorot menembus gang sempit. Reno reflek jongkok di dekat lemari mukena, jantungnya berdetak kencang. Dari celah papan, ia bisa melihat bayangan beberapa anak geng turun dari motor, menoleh ke kiri dan kanan. “Gue liat tadi dia belok ke sini!” suara salah satu dari mereka terdengar. “Tapi masa iya dia masuk ke… masjid?” sahut yang lain, suaranya ragu. Reno menggertakkan gigi. Sial, ketahuan juga! Tapi Azra tiba-tiba berdiri, berjalan pelan ke arah pintu masjid. “Mas… jangan keluar,” bisiknya pada Reno sebelum melangkah. 

   Di bawah cahaya lampu jalan, Azra menatap geng motor itu dengan wajah tenang. “Ada apa ribut-ribut di depan masjid? Malam begini bukannya istirahat?” suaranya lembut, tapi tegas. Anak-anak geng itu saling pandang. Mereka jelas segan. Tak ada yang berani sembarangan masuk ke halaman masjid. Salah satu akhirnya mendengus. “Oke. Tapi kalau ketemu Reno di luar sini, abis lo, Ren!” Mereka pun berbalik, motor meraung lagi, meninggalkan bau asap knalpot. Reno keluar dari persembunyiannya, masih ngos-ngosan. “Mbak… gila, tadi mereka bisa beneran ngabisin gue. Kok lo berani banget ngadepin mereka sendirian?” Azra hanya menatapnya. “Kalau yakin ada yang lebih kuat dari geng-geng itu, kamu nggak perlu takut.” Reno mengernyit. “Maksud lo… Tuhan?” Azra tersenyum tipis, lalu kembali duduk dan membuka mushaf. “Bukankah barusan kamu selamat? Atau kamu masih pikir itu kebetulan?” Reno terdiam. Kata-kata itu menamparnya lebih keras daripada pukulan geng lawan. Untuk pertama kalinya, Reno merasa kalah — bukan karena tawuran, tapi karena satu cewek alim di masjid kecil itu.  “Aku Azra,” jawabnya singkat. “Reno.” 

   Mereka saling tatap. Reno kaget — tatapan Azra tidak seperti tatapan orang lain yang biasanya jijik atau menghakimi. Tatapannya penuh rasa ingin tahu. “Mau tahu nggak kenapa hidupmu selalu dikejar-kejar?” tanya Azra tiba-tiba. Reno terdiam. “Karena kamu lari dari dirimu sendiri. Coba hadapi, bukan kabur.”  Kata-kata itu rasanya lebih ngeri daripada bogem mentah musuh. 

   Belum sempat ia jawab, suara knalpot kembali terdengar. Geng lawan ternyata berputar balik. Reno panik. “Waduh, mereka balik lagi! Gue bisa babak belur, nih!” Azra berdiri, menutup tasnya, lalu menatap Reno. “Kalau begitu, ikut aku.” Ia menarik tangan Reno. Reno kaget. “Eh, lo ini siapa sih? Ninja muslimah?!” “Sudah jangan banyak bicara,” kata Azra sambil terus menarik tangan Reno keluar dari masjid itu.  Mereka berlari melewati jalan setapak sempit di samping masjid. Reno terengah-engah.

   Tapi baru beberapa meter, tiga orang geng lawan sudah menghadang. “Reno! Akhirnya ketemu lo!” Reno otomatis mengangkat tangan, siap berkelahi. Namun Azra berdiri di depannya. “Tenang. Aku punya cara.” Ia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan semprotan lada. Pssshhht! Tiga orang itu berteriak, mengucek mata, lalu jatuh meronta. Reno melongo. “Gila! Lo bawa senjata rahasia?!” “Ini buat jaga diri, bukan buat nyerang,” jawab Azra santai. 

   Mereka kabur lagi. Kali ini masuk ke pasar malam yang masih ramai. Azra lincah menyelinap di antara kerumunan. “Eh, lo alim-alim gini, kok kayak agen rahasia?” teriak Reno. “Aku cuma terbiasa menghadapi orang macam kamu,” jawab Azra sambil tertawa. Reno mendengus, tapi diam-diam ia kagum. Cewek ini berani banget. 

   Sayangnya, geng lawan kembali muncul dan mereka menyebar di keramaian pasar malam. Reno dihadapkan pada pilihan terbesar dalam hidupnya: kembali kabur seperti biasa, atau berhenti dan hadapi semuanya. Tiba-tiba, dari gang sempit di samping pasar, muncul seorang lelaki tua dengan sarung disampirkan di pundak. Wajahnya keriput tapi sorot matanya tajam. Dialah Pak Darsa, penjaga mushola kecil di kampung itu. “Cepat ikut saya,” bisiknya singkat. Tanpa banyak pikir, Reno dan Azra mengikuti langkahnya. Pak Darsa membawa mereka ke sebuah rumah tak terawat, lalu menyuruh mereka masuk sebelum geng itu sempat melihat. 

   Di dalam rumah kecil itu, Reno terduduk
lemas. “Kenapa Bapak menolong saya? Bukannya saya ini cuma bikin onar?” Pak Darsa menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Orang yang paling ribut biasanya orang yang paling haus ketenangan karena di rumahnya nggak ada yang peduli.” “Bapak… kok bisa tahu?” suaranya serak. Pak Darsa tersenyum tipis. “Karena dulu, saya juga pernah jadi anak kayak kamu.” Reno menunduk, suaranya lirih. “Di rumah… orang tua saya tiap hari berantem. Nggak ada yang dengerin saya.” Keheningan menyelimuti ruangan kecil itu. Malam yang tadinya penuh amarah berubah jadi ruang sunyi, tempat Reno untuk pertama kali merasa didengar.  Ia merasa bukan cuma Azra yang percaya padanya, ada orang lain yang mau memberinya tempat pulang. Malam itu, setelah lama terdiam, Reno akhirnya mengangguk kecil. “Kalau memang ada jalan pulang,  saya mau coba, Pak.” 

   Beberapa hari kemudian, Azra mengajaknya ke kajian di masjid dekat situ. Reno datang dengan langkah ragu. Tapi begitu duduk bersila di shaf belakang, mendengar lantunan ayat dan nasehat ustaz, dadanya terasa tenang — sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Reno tertunduk, menyembunyikan matanya yang mulai basah. Untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin benar hidupnya bisa berubah.

   Hari-hari berikutnya, Reno sering datang ke masjid itu. Rambut pirangnya jadi hitam lagi, knalpot brongnya ia ganti standar. Reno benar-benar banting setir. Mantan ketua geng yang dulu disegani di jalanan, kini malah sibuk ngangkut galon buat tetangga. “Dulu gue ngegas motor balap, sekarang ngegas dorong troli galon,” gumamnya sambil ngos-ngosan. Anak-anak gang pada ngakak tiap lihat Reno lewat, tapi Reno cuek aja. Reno pun mulai cari kerja halal. Dari nganter paket, jaga warung kopi, sampai jadi tukang parkir resmi di masjid. Azra melihat semua itu dari jauh. Ia melihat Reno tidak main-main. 

   Beberapa bulan kemudian, Reno sudah berubah drastis. Bekas ketua geng yang dulu hidupnya penuh ribut-ribut, kini malah jadi idola bocah-bocah kecil di kampung. Tiap sore ia menjadi pelatih bola di lapangan, dan menyuruh wudhu bareng sebelum pulang. Melihatnya berubah, Azra dan Pak Darsa sangat bahagia. Mereka bisa membuat Reno yang hilang arah menjadi pemuda yang siap menatap masa depannya yang lebih baik. “Tidak ada kata terlambat untuk pulang, Reno,” gumam Azra sambil tersenyum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

Apalah Arti Menunggu? (written by Ary-sensei)