Oden Kyoto Terenak (written by Ary-sensei)


 

Sore itu hujan cukup deras. Wati dan anaknya memilih berteduh di depan sebuah mini market. Reyno kecil mulai merajuk sambil terus memandangi etalase makanan dari luar toko.

“Ibuuuuu…aku lapar,” rengek Reyno kecil. Wati mulai bingung. Dia ingat uangnya tak banyak. Jualan gorengan hari itu belum terjual semua karena hujan turun dengan derasnya sehingga dia dan Reyno tidak bisa lanjut berjualan.

“Ehm…makan gorengan ibu saja ya?” rayu Wati dengan wajah gusar. Reyno mulai ngambeg dan terus memandang etalase makanan itu.

Seorang wanita rupanya memperhatikan Reyno sejak tadi. Dia merasa iba, tapi dia ingin melihat reaksi ibu dan anak itu untuk beberapa saat. Wati berkali-kali merayu anaknya tapi Reyno tetap tidak ingin memakan gorengan jualan ibunya.

Tiba-tiba wanita itu mendekati Reyno. “Hai…pengen beli kue yang di dalam itu?” tanyanya dengan ramah. Reyno melihat ke arahnya, lalu mengangguk. Wati memandangnya dengan heran, tapi segera tersenyum melihat keramahan wanita itu. “Yuk ikut saya,” kata wanita itu sambil merangkul bahu Wati agar Wati mengikutinya. Mereka pun masuk ke dalam.

Reyno sangat girang. Ruangan itu sejuk ber-AC. Rak-rak makanan tertata rapi yang membuat matanya berkilat ingin membeli semuanya. “Ayo sana nak, pilih apa yang kamu suka,” kata wanita itu lalu menggandeng tangan Wati, “Saya ingin menunjukkan sesuatu. Mbak harus coba.” Meski Wati bingung, tak kenal dengan wanita itu, tapi dia patuh mengikutinya.

“Mas, minta Oden Kyoto 2 porsi ya,” katanya pada penjaga toko. Wanita itu pun membeli beberapa makanan lain. Sesekali dia mengawasi Reyno dari jauh. Wati jadi salah tingkah lalu didekatinya Reyno, “Ambil satu makanan saja,” katanya. Dari kejauhan, wanita itu tersenyum mengawasi mereka.

Beberapa waktu kemudian, mereka bertiga sudah menikmati makanan yang mereka pesan di sebuah meja. “Bu, terima kasih banyak. Maaf, jadi merepotkan,” kata Wati pada wanita yang belum dikenalnya itu. “Ah tidak apa-apa.” Wanita itu pun menyuruh Wati menikmati oden yang tadi dipesannya.

Wati memakan satu diantara beberapa oden dalam cup itu. “Masyaallah, ini enak sekali!” Wati terkejut dengan citarasa oden yang baru saja dicicipinya. Dia pun memberikannya pada Reyno dan Reyno membelalakkan matanya setelah mencicipi oden itu.”Enak banget!” seru Reyno. Wanita itu tertawa, “Enak kan? Nah ini ada dua cup, selamat menikmati,” katanya. “Ini terlalu banyak untuk kami,” kata Wati. Wanita itu mengibaskan tangannya, “Tidak, itu untuk kalian berdua. Makanlah. Saya pulang dulu ya,” katanya.

Wati menghentikannya. “Bu, bolehkah saya tahu nama ibu?”  Wanita itu menjawab, “Retno Wulan. Sudah ya, saya pulang dulu, selamat menikmati.” Dia pun pergi setelah Wati mengucapkan terima kasih berulang-ulang.

Lima belas tahun berlalu dengan cepat. Reyno kecil sekarang menjadi seorang pemuda berusia 20 tahun. Seorang mahasiswa semester 3 yang kreatif dan pekerja keras. Dia membuat sebuah usaha kuliner dengan brand “Umai Oden” yang artinya “oden enak”. Usaha ini terinspirasi oden terenak yang pernah dia makan 15 tahun lalu. Dia sangat bersyukur bertemu wanita baik hati bernama Bu Retno Wulan yang membelikannya oden terenak yang pertama kali dimakannya.

Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, bisnis kulinernya menjadi berkembang dan mempunyai cabang. Warung induknya dikelola oleh ibunya, dan warung cabang dikelola Reyno. Kehidupan mereka menjadi jauh lebih baik dari 15 tahun yang lalu. Ibunya tidak perlu berkeliling menjual gorengan lagi untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Kini, mereka bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk beberapa orang mahasiswa yang bekerja sebagai pramusaji dan chef. Reyno dan ibunya, Wati, sangat bersyukur karena konsumen sangat banyak tiap harinya. Bagi Reyno, semua ini bentuk syukurnya pada Tuhan dan rasa terima kasih tidak terhingga pada wanita baik hati yang telah memberinya inspirasi usaha.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)