Cinta Joy Untuk Hope (written by Ary-sensei)

 


Malam itu tak kan pernah dilupakan oleh Hope dan Joy, sepasang kekasih yang tak lama lagi menggelar pesta pertunangan mereka setelah lima tahun mereka berpacaran. Rencana yang telah disusun dengan rapi bisa jadi akan kandas setelah semua itu terjadi.

Malam itu, Hope memegangi tangan kekasihnya yang terkulai tak berdaya di pembaringan rumah sakit. Matanya belum terbuka sejak dia masuk rumah sakit dan menjalani serangkaian perawatan. Hope menahan air matanya, menahan perih di hatinya. Dia hanya ingin ada di sisi Joy, kekasihnya, yang harus mendapat perawatan intensif di ruang IGD.

“Silakan menunggu di luar ya mas,” kata seorang perawat dengan sopan, “kami akan melakukan beberapa pemeriksaan pada pasien.” Hope mengangguk lalu keluar ruangan sambil sesekali menyeka air matanya.

Keluarga Hope segera menghambur mendekati Hope ketika pria itu keluar dari ruang IGD. “Bagaimana kondisi Joy?,” tanya mama Reni cemas. Dengan terbata Hope berkata, “Belum membuka matanya, terlihat lemah dan kepalanya diperban.” Tak tahan lagi Hope menangis, mama Reni menuntunnya ke kursi tunggu. “Sabar ya nak,” kata papa Hugo mencoba menenangkan hati anak kesayangannya itu, lalu memeluknya. Hope menangis di pelukan ayahnya.

Tak lama keluarga Joy datang. “Bagaimana Joy?” tanya mama Wuri cemas dan panik. Mama Reni memeluknya, “Masih dalam perawatan, belum membuka mata. Tenang ya jeng, yuk kita doakan semoga segera membaik,” katanya menenangkan. Mama Wuri mengangguk. Mereka pun duduk di kursi tunggu dengan rasa cemas, panik, namun penuh harapan.

Setelah sekian hari pemeriksaan dan perawatan yang intensif, dokter mengatakan Joy mengalami benturan keras di kepala saat kecelakaan motor terjadi. Ada kemungkinan temporary Amnesia. Dokter menyarankan keluarga untuk terus berada di sisinya dan membuat Joy mengingat dengan perlahan, jangan paksakan mengingat terlalu banyak karena akan membuat syaraf-syaraf di kepalanya tegang.

Sejak hari itu, Hope selalu ada di sisi Joy. Dia tahu akan sulit bagi Joy menjalani saat-saat ini, jadi dia berkata bahwa mereka adalah sahabat. Hope menunjukkan perhatiannya sebagai sahabat Joy. Dia akan menjauh beberapa waktu ketika Joy menginginkannya dan akan selalu mendekat saat Joy membutuhkannya.

“Apakah kamu bosan mengurusku, Hope?” tanya Joy saat mereka sedang duduk di halaman rumah. Hope menggeleng, “Tidak. Kamu sahabat terbaik yang aku punya, aku tak akan bisa jauh darimu,” katanya. Joy tersenyum. “Apakah pacarmu tidak marah kamu setiap waktu bersamaku?” Hope terlihat terkejut, “Pacar? Aku belum punya pacar, jadi siapa yang akan marah padaku,” jawabnya berkelakar. “Oh,” balas Joy pendek.

“Apa yang kamu inginkan di masa depan?” tanya Hope sambil membetulkan syal yang dipakai Joy. Joy memandangnya sebentar, “Ehm…melihat kamu yang begitu baik dan perhatian, begitu sabar dan menyenangkan, aku pikir aku ingin menjadi pacar kamu.” Hope kaget, membelalakkan matanya yang membuat wajahnya menjadi lucu. Joy tertawa, “Wajahmu lucu sekali.” “Hey…apa yang barusan kamu bilang?” tanya Hope. “Ehm…gak tahu, aku sudah lupa,” jawab Joy sambil cekikikan. Hope dengan gemas menggelitikinya, “Ayo katakan, kamu tadi bilang apa?” Sambil tertawa geli, Joy menjawab, “Aku sudah lupa, kamu kan tahu aku amnesia.” Hope berhenti menggelitikinya lalu memandang Joy dengan rasa cinta. Jantungnya berdesir, cinta itu bukan baru tumbuh, tapi seperti disirami kembali. Asa yang hampir pupus, kini mulai hijau kembali.

“Seandainya kamu mau jadi pacarku, aku mau menerimanya,” kata Hope. Kali ini Joy membelalakkan mata, “Apa?” Hope ingin mengerjainya, “Apanya yang apa?” “Yang baru kamu katakan,” kata Joy. “Aku tidak mengatakan apa-apa, aku juga ikutan Amnesia.” Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

Dari balik gorden, mama Wuri mengintip mereka. Rasanya kecemasan di hatinya hampir dua bulan ini mulai terkikis. Joy dan Hope sudah menemukan keceriaannya lagi. Mama Wuri pun tersenyum bahagia. “Anak-anak sudah kembali ceria ya ma,” kata papa Setyo. “Iya pa. Semoga Joy cepat kembali ingatannya dan semua kembali normal.” Papa Setyo memeluk istri tercintanya. “Semoga kecemasan kita selama ini segera berakhir.”

Sore itu, Hope mengajak Joy makan di restoran favorit mereka, berharap Joy mengingat sedikit demi sedikit. Saat mereka masuk, Joy berbisik, “Sepertinya tempat ini tak asing bagiku.” “Masa sih? Ini pertama kalinya aku ajak kamu ke sini loh. Apa tempat ini nyaman untukmu? Kalau tidak nyaman, kita pergi ke tempat lain saja,” kata Hope menguji ingatan Joy. “No, no, no, di sini saja. Aku tidak ada masalah dengan tempat ini.” Mereka pun memilih menu, dan ternyata menu yang dipilih Joy adalah menu yang lagi dan lagi dipilihnya tiap kali mereka ke restoran itu. Hope tak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum.

Tapi di tengah-tengah asyiknya mereka makan, kepala Joy terasa sangat sakit. Hope tanpa pikir panjang segera membawanya ke rumah sakit tempat Joy selama ini mendapatkan perawatan. Hope menjadi makin khawatir ketika dokter berkata Joy harus tinggal di rumah sakit untuk sementara waktu selama pemeriksaan.

Malam itu, ketika Hope menemani Joy di rumah sakit, dia tertidur di sisi pembaringan Joy sambil memegangi tangannya. Joy yang terbangun di tengah malam memandangnya dengan penuh cinta dan membelai kepalanya dengan lembut. Hope terbangun. Dengan samar dilihatnya Joy tersenyum sambil membelai rambutnya.

“Kamu lelaki tampan, baik hati, pengertian, dan paling sabar yang pernah aku punya dalam hidupku,” kata Joy. “Hemmm…apa?” tanya Hope separuh sadar. Dia duduk mendekati Joy. “Aku beruntung kamu calon tunanganku,” katanya sambil tersenyum. “Heh?!” Hope sangat terkejut dengan kata-kata itu. Joy meraih tangan Hope dan mencium tangannya dengan lembut. “Terima kasih selalu ada untukku, tunanganku sayang. Aku telah melewati banyak hal, dan aku bersyukur telah mengingat siapa kamu dalam hidupku.” Keduanya berpelukan dan menangis bersama. Hope tak ingin melepaskan pelukannya, yang ada di hatinya hanya rasa syukur yang begitu dalam karena Joy telah kembali mengingatnya.

Beberapa bulan kemudian, pesta pertunangan pun dilaksanakan. Wajah mereka berdua penuh cinta, kebahagiaan menghinggapi semua keluarga. Cinta Joy telah kembali untuk Hope.

 

-      Tamat   -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)

First Love (written by Ary-sensei)