Tak Sungguh Pergi
Senja mulai turun ketika Laila duduk sendirian di bangku taman dekat kampus. Ponselnya sudah beberapa kali ia lihat, tapi tidak ada pesan baru dari Arga.
Ia menghela nafas panjang.
Sejak beberapa minggu terakhir, semuanya terasa berbeda. Arga yang dulu selalu punya waktu untuknya, sekarang sering sibuk dengan adik-adiknya. Mengantar mereka sekolah, membantu mereka mengerjakan tugas, bahkan menjemput mereka dari tempat les.
Laila tahu Arga sangat menyayangi keluarganya. Ia juga tahu Arga adalah kakak tertua yang sering menggantikan peran orang tua ketika mereka sibuk bekerja.
Tapi tetap saja… hatinya terasa kesal.
Kenapa rasanya aku jadi nomor dua? pikirnya.
Ponselnya akhirnya bergetar.
Arga:
"Maaf ya, aku baru selesai jemput adik. Kamu sudah makan?"
Laila menatap pesan itu lama sekali.
Bukannya merasa senang, ia justru semakin kesal.
Ia langsung membalas.
"Kamu selalu sibuk sama adik-adikmu. Kamu masih punya waktu buat aku nggak sih?"
Beberapa detik kemudian, Arga membalas.
"Aku masih punya waktu. Cuma kadang memang harus bagi waktu."
Jawaban itu terasa seperti percikan api di hati Laila.
"Kalau gitu kamu sama mereka saja. Aku capek selalu nunggu."
Pesan itu terkirim. Laila menyesal sedikit… tapi juga terlalu gengsi untuk menariknya kembali.
Tidak lama kemudian Arga menelepon.
Laila mengangkatnya dengan nada dingin.
“Laila… jangan marah seperti ini,” kata Arga pelan di ujung telepon.
“Kenapa? Aku salah ya kalau merasa diabaikan?”
“Bukan begitu…”
“Tapi faktanya kamu selalu punya waktu buat mereka. Buat aku? Aku harus nunggu terus.”
Arga terdiam beberapa detik.
Ia terlihat menahan sesuatu dalam suaranya, tapi tetap berbicara dengan tenang.
“Aku cuma berusaha menjalankan tanggung jawabku sebagai kakak,” katanya pelan.
“Tanggung jawabmu ke aku apa?” balas Laila cepat.
Kali ini Arga benar-benar diam.
Kesunyian itu justru membuat Laila semakin kesal.
“Sudahlah,” katanya akhirnya. “Kalau begini terus… kita putus saja.”
Arga tidak langsung menjawab.
Tidak ada suara marah. Tidak ada nada tinggi.
Hanya napas panjang yang terdengar dari ujung telepon.
“Kalau kamu sedang marah, aku tidak mau mengambil keputusan sekarang,” kata Arga akhirnya. “Aku kasih kamu waktu.”
Jawaban itu membuat Laila makin kesal.
“Kenapa kamu selalu seperti ini?! Kenapa kamu nggak pernah marah balik?!”
Arga hanya menjawab pelan, “Karena aku tidak ingin menyakiti kamu saat aku juga sedang kesal.”
Malam itu percakapan mereka berakhir tanpa kata “selamat malam”.
Tiga hari berlalu.
Tidak ada pesan dari Arga.
Tidak ada telepon.
Tidak ada kabar.
Awalnya Laila merasa lega. Ia berpikir akhirnya ia bebas dari rasa kesal yang selama ini ia simpan.
Tapi hari kedua terasa aneh.
Hari ketiga terasa sangat sepi.
Tidak ada yang mengingatkannya makan.
Tidak ada yang bertanya apakah ia sudah sampai rumah dengan aman.
Laila mulai sadar sesuatu yang selama ini tidak ia perhatikan.
Arga mungkin memang sering sibuk dengan adik-adiknya…
tapi di sela-sela kesibukan itu, ia selalu menyempatkan waktu untuknya.
Dan sekarang, ketika tidak ada pesan sama sekali…
hatinya terasa kosong.
Malam itu Laila akhirnya berjalan ke rumah Arga.
Tangannya terasa dingin saat mengetuk pintu.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Arga berdiri di sana.
Wajahnya terlihat sedikit lelah, tapi matanya tetap sama—tenang dan hangat.
“Kamu…” Laila sedikit gugup.
“Iya?” jawab Arga lembut.
Laila menunduk.
“Aku cuma… mau bicara.”
Arga mempersilakan ia masuk ke teras.
Angin malam bertiup pelan di antara mereka.
Laila menatap lantai, berusaha mencari kata yang tepat.
“Aku pikir aku benar-benar bisa pergi,” katanya pelan.
Arga tidak menyela.
“Aku pikir aku cuma kesal… dan setelah putus semuanya akan baik-baik saja.”
Suara Laila mulai bergetar.
“Tapi ternyata aku salah.”
Ia akhirnya menatap Arga.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku kangen kamu.”
Arga masih diam.
Memberinya waktu untuk jujur pada perasaannya sendiri.
“Aku kangen pesanmu… kangen kamu yang selalu nanya aku sudah makan atau belum,” lanjutnya.
Air mata akhirnya jatuh di pipinya.
“Aku juga sadar sesuatu.”
“Apa?” tanya Arga pelan.
Laila menarik napas dalam.
“Aku cemburu sama adik-adikmu.”
Arga sedikit terkejut, tapi tidak marah.
“Aku merasa mereka lebih penting dari aku,” kata Laila jujur.
Arga menggeleng pelan.
“Kamu salah kalau berpikir begitu.”
“Lalu kenapa kamu selalu bersama mereka?”
Arga tersenyum kecil, tapi ada sedikit kelelahan di wajahnya.
“Karena mereka masih butuh aku.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi itu tidak pernah berarti kamu tidak penting.”
Laila menatapnya dengan mata penuh rasa bersalah.
“Aku terlalu egois ya?”
Arga menggeleng lagi.
“Kamu cuma takut kehilangan.”
Laila tidak bisa menahan tangisnya lagi.
“Aku memang takut kehilangan kamu. Tapi aku ingin tahu kenapa kamu seperti menjauh?” tanyanya pelan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu malam itu, Arga melangkah mendekat dan memeluknya dengan lembut.
“Aku tidak menjauh,” jawabnya
Ia menghapus air mata di pipi Laila lalu mencium pipinya dengan lembut.
“Aku tidak pergi ke mana-mana. Aku hanya sedang mencoba mengurus banyak hal, tapi bukan berarti kamu tidak penting.”
Laila menatapnya lalu menarik nafas pelan di pelukan itu. Amarahnya perlahan berubah menjadi tenang.
“Aku juga tidak bisa pergi,” bisiknya.
Arga tersenyum.
Kemudian ia menarik Laila ke dalam pelukan hangat.
Pelukan itu terasa tenang… seperti rumah yang selalu bisa ia kembali.
Laila memejamkan mata, menikmati kehangatan itu.
“Maaf aku sering bilang ingin putus saat marah,” katanya pelan di bahu Arga.
Arga tertawa kecil.
“Aku sudah tahu kamu tidak benar-benar ingin pergi.”
Laila menjauh sedikit, menatap wajahnya.
“Kenapa kamu selalu sabar seperti itu?”
Arga berpikir sebentar sebelum menjawab.
“Karena aku tahu kamu hanya sedang kesal… bukan berhenti mencintaiku.”
Laila tersenyum kecil di antara air matanya.
Kemudian ia berdiri sedikit berjinjit dan memberi cium lembut di pipi Arga.
“Terima kasih sudah tidak menyerah padaku.”
Arga terlihat sedikit kaget, lalu tersenyum hangat.
Ia kembali memeluk Laila.
Dan malam itu, di bawah langit yang penuh bintang, Laila akhirnya mengerti satu hal—
Cinta bukan tentang siapa yang selalu punya waktu paling banyak.
Tapi tentang siapa yang tetap memilih untuk tinggal…
bahkan ketika hubungan sedang diuji oleh rasa marah, cemburu, dan ego.
Dan Arga…tidak pernah benar-benar pergi.
Komentar
Posting Komentar