Yang Tersisa adalah Aku ( part-3 ) (written by Henny)

 

Sore harinya, Nisa membawa sebungkus jeruk nipis dan sambal. “Kia, aku kepikiran sesuatu. Kenapa nggak coba kasih sentuhan kamu sendiri? Misalnya, ibumu terkenal sama kuah kaldunya yang gurih, nah kamu bisa kasih tambahan segar dari jeruk nipis ini. Kan kamu suka rasa segar-segar?” Adzkia termenung. Ide itu sederhana, tapi membuatnya sadar: mungkin warung ini memang bukan soal meniru persis, melainkan melanjutkan dengan jiwa baru.

Esoknya, Adzkia mencoba resep baru, dibantu asisten ibunya, Bi Jum. Ia merebus kaldu lebih lama, menambahkan sedikit serai agar lebih harum, dan menyajikan sambal buatan tangannya sendiri. Kuah soto itu tetap hangat seperti warisan ibunya, tapi ada aroma segar yang berbeda. Ia menambahkan sentuhan kecil sesuai seleranya.

  Keesokan harinya, warung tutup sementara. Daripada buka tapi masih belum siap mental dan belum ada masakan dengan rasa baru. Adzkia ga mau setengah-setengah. Baru setelah dirasa lebih mantap, 3 hari kemudian mengadakan soft opening sekaligus menggelar acara syukuran kecil-kecilan, supaya tambah laris dan berkah. Acara tersebut dibantu asisten ibunya, Bi Jum dan temannya.  Pelanggan lama, termasuk Pak Karyo datang. Dengan hati berdebar, Adzkia menyajikan soto versinya. Pak Karyo menyuapkan satu sendok, lalu terdiam sejenak, “Hmm… rasanya memang bukan persis buatan ibumu. Tapi enak, Kia. Ada rasa baru yang segar. Seperti ada semangatmu di dalamnya”. Bisikan pelanggan lain berubah kali ini.  “Eh, enak juga ya, ada rasa khasnya.”,  “Iya, beda… tapi bikin nagih”.

Air mata Adzkia menggenang, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia menunduk sambil tersenyum, suaranya bergetar saat berbisik dalam hati, “Bu… aku nggak bisa jadi ibu. Tapi aku bisa jadi Adzkia, dan ini adalah soto Adzkia”. Ia mulai membuka buku catatan resep peninggalan ibunya. Di setiap halaman, ada tulisan tangan lembut yang seakan masih membimbingnya. “Tambahkan sedikit garam… jangan lupa doa sebelum mengaduk…” begitu catatan kecil yang selalu ditulis ibunya.

Perlahan, Adzkia belajar bukan hanya soal takaran bumbu, tapi juga bagaimana memasak dengan hati. Ia mulai menemukan caranya sendiri, mungkin tak sama persis dengan ibunya, tapi ada ketulusan yang tetap sampai ke lidah pelanggan.

Senyum pertama kali setelah sekian lama akhirnya terbit di wajah Adzkia. Adzkia dengan hasil masakannya dibantu Bi Jum bisa diteruskan sambil disela waktu bisa menyelesaikan skripsi yang tinggal 2 bab lagi.

Adzkia berkata dalam hati, “Meski aku sendiri, aku tidak menyerah hanya karena gagal lagi dan lagi. Kali ini aku harus berhasil untuk soto warisan ibu dan kuliahku yang tinggal menghitung waktu saja. Aku tak boleh menyerah”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Cerpen Romantis: First Love

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)