Yang Tersisa adalah Aku ( part-2 ) (written by Henny)
Defdan bekerja di sebuah perusahaan percetakan kecil di kota Yogyakarta. Perusahaannya menerima pesanan macam-macam: mulai dari cetak undangan, brosur, spanduk, sampai buku tahunan sekolah. Karena jumlah karyawan terbatas—hanya belasan orang—Defdan harus merangkap banyak tugas.
Pagi-pagi ia sudah sibuk mengangkat gulungan kertas besar ke gudang, membantu bagian produksi menyiapkan tinta, bahkan kadang harus turun langsung mengoperasikan mesin cetak jika operator sedang izin. Siangnya, ia berganti posisi di depan komputer, membantu desain sederhana untuk pelanggan yang tidak membawa file. Malamnya, jika ada pesanan mendesak, ia ikut lembur memotong hasil cetakan atau mengemas pesanan supaya bisa diantar keesokan harinya. Gajinya memang tidak besar, tapi cukup stabil. Ia sadar, pekerjaannya itu bukan karier mewah, namun bagi Defdan, yang penting bisa kirim uang ke rumah untuk menutup kebutuhan dapur, listrik, dan lain- lain. Karena itulah ia jarang sekali bisa pulang. Kalau pun pulang, paling cepat dua minggu sekali, itupun hanya untuk satu atau dua malam sebelum harus kembali lagi ke kota.
Defdan sering kali merasa serba salah. Di satu sisi, ia ingin membantu Adzkia menjaga warung peninggalan ibu dan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tapi di sisi lain, ia tahu warung tidak cukup untuk membiayai hidup mereka berdua, apalagi untuk jangka panjang. Maka satu-satunya cara ia berkontribusi adalah bekerja keras di luar kota.
Malam itu warung sudah sepi. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari kebun belakang. Lampu bohlam yang menggantung di teras berayun pelan ditiup angin. Temaramnya cahaya membuat bayangan wajah Adzkia tampak letih saat ia menghitung uang receh di meja kayu.
Defdan duduk berhadapan dengannya, dadanya terasa berat. Ia akhirnya membuka suara. “Kia, kalau abang terus kerja di luar kota, kamu nggak apa-apa sendirian di sini? Maafin abang juga yang pernah marah-marah waktu negur kamu waktu itu ya. Abang ga mau kamu larut dalam kesedihan hilang semangat, sayang jalanmu masih panjang“. Adzkia berhenti merapikan uang receh lalu menunduk, bahunya sedikit bergetar. “Nggak apa-apa, bang. Aku bisa kok. Warung ini milik ibu, aku nggak mau lepas begitu aja, justru Kia merasa beruntung diperhatiin kakak yang tetap sayang walaupun kerja di luar kota”. Defdan menghela napas panjang, matanya jatuh ke lantai semen yang retak. “Abang sering kepikiran buat berhenti kerja. Pengen bantu kamu jaga warung. Tapi kalau cuma ngandelin ini, kita nggak akan cukup.” Adzkia mengangkat wajahnya.
Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha tersenyum. “Ga masalah bang, kan ada Bu Jum yang bantuin di warung, bagi tugas sama Kia. Terus gaji abang ga cuma buat kebutuhan sehari-hari aja. Kia sisihin sebagian buat tambahan modal warung. Aku juga kepikiran buka usaha percetakan kecil-kecilan di samping warung. Anak sekolah di sini banyak, pasti butuh fotokopi, print, sama jilid. Kalau usaha itu jalan, kita bisa lebih mandiri. Nggak perlu sepenuhnya bergantung sama gaji abang”.
Defdan menatap adiknya lama. Ada rasa bangga sekaligus haru menyelusup di dadanya. Selama ini ia menganggap Adzkia hanya bertahan demi warung peninggalan ibu. Ternyata diam-diam ia punya rencana, punya keberanian untuk menatap ke depan.
Defdan terdiam, rasa haru menyesakkan dadanya. Ia menepuk pelan bahu adiknya, mencoba menyembunyikan getir yang menusuk. Dalam diam, ia berjanji akan terus bekerja keras agar perjuangan Adzkia menjaga warung peninggalan ibu tidak pernah sia-sia.
Rumah Adzkia berada di sebuah gang kecil di kota Magelang, tidak jauh dari pasar tradisional. Warung mereka menempel dengan rumah: bangunan sederhana berdinding tembok cat putih yang mulai kusam, dengan pintu kayu berderit dan jendela kaca yang sering berembun oleh uap kuah soto.
Di depan, ada beberapa meja kayu panjang dengan bangku-bangku sederhana. Catnya sudah terkelupas, tapi selalu bersih, karena Adzkia rajin mengelap setiap pagi. Aroma segar soto, sambel soto, koya dan krupuk yang dulu membuat pelanggan tetap mulai dari abang ojol ibu-ibu pasar, sampai karyawan kantor betah datang hampir setiap hari. Apalagi dilengkapi WiFi. Jadi bisa untuk anak muda berkumpul juga kalau malam.
Namun sejak ibu mereka meninggal, suasana warung itu tak lagi sama. Kursi-kursi yang dulu selalu penuh, kini sering kosong. Kadang hanya satu dua pelanggan yang duduk, lebih banyak makan sambil menghela napas, lalu berbisik lirih, “Rasanya beda, ya… nggak kayak dulu.” Tetangga-tetangga masih suka mampir, sebagian untuk menghibur, sebagian lain hanya untuk menanyakan kabar dengan tatapan kasihan. Semua itu menekan hati Adzkia, membuatnya merasa beban warung ini semakin berat. Dan setiap kali Defdan pulang dua minggu sekali, ia selalu mendapati kursi-kursi kosong itu, lalu mengingatkan adiknya dengan nada keras—meski di balik itu, ia pun sama hancurnya melihat warung perlahan kehilangan nyawa.
Saat itu Bu Juma, asisten setia ibunya masuk ke dapur, melihat Adzkia yang bergetar menahan tangis. Wanita paruh baya itu langsung meraih pundaknya. Bu Jum, asisten setia yang sudah membantu ibunya sejak lama, diam-diam mendekat. Perempuan paruh baya itu menaruh tangannya di bahu Adzkia. “Kia, dengar ya… beda tangan memang beda rasa. Masakan ibumu tak tergantikan, tapi itu bukan berarti masakanmu tidak enak”. Adzkia menggeleng. “Tapi mereka semua selalu bandingkan aku dengan ibu. Aku capek, Bu Jum…” Bu Jum tersenyum hangat. “Kalau orang bandingkan, itu tandanya mereka sayang sama ibumu. Jangan jadikan itu beban, jadikan itu semangat. Warung ini bisa tetap hidup bukan karena rasanya sama persis, tapi karena hatimu ikut di dalamnya. Ingat, orang datang ke sini bukan hanya cari makan… tapi juga cari kenangan dan ketulusan.” Kata-kata itu menusuk hati Adzkia. Ia menatap mata Bu Jum yang berkaca-kaca, lalu mengangguk pelan. “Jadi… aku harus terus berusaha, ya, Bu?” “Bukan harus. Tapi memang takdirmu. Kamu anak kuat, Kia. Ibumu pasti bangga”. Adzkia mengangguk lagi, air matanya jatuh juga, “Terimakasih Bu Jum, udah dukung saya terus ya”. Untuk pertama kali, ia merasa benar-benar diuji untuk menjaga amanah ibunya.

Komentar
Posting Komentar