Yang Tersisa adalah Aku ( part-1 ) (written by Henny)

 

 Masih disela tangisnya, Adzkia memohon kedua orang tuanya untuk tidak pergi. Ada ganjalan dalam hatinya yang begitu sulit ia ungkapkan lewat ucapan. Meski bunda meyakinkan kalo nanti sore sudah pulang ternyata kenyataannya orangtuanya pergi untuk selamanya. Adzkia berdiri terpaku di depan makam yang masih basah. Nisan putih dengan nama kedua orang tuanya membuat matanya kembali berkaca-kaca. Hujan rintik-rintik sore itu seakan ikut berduka, meresap ke tanah merah yang baru saja ditimbun. “Ayah… Ibu… bagaimana aku harus melanjutkan hidup tanpa kalian?” bisiknya lirih. Suaranya tenggelam di antara doa-doa orang yang mulai bubar meninggalkan pemakaman. Jemarinya gemetar saat menyentuh tanah yang masih basah, seolah ingin meraih kembali tangan ibunya yang hangat atau pundak ayahnya yang kokoh. 

 Kecelakaan itu datang begitu cepat. Sebuah truk rem blong menghantam mobil orang tuanya saat perjalanan pulang dari Bandung. Adzkia, yang saat itu memilih tidak ikut karena ada sisa tugas kuliah dan persiapan judul skripsi, kehilangan segalanya hanya dalam hitungan detik. Bayangan wajah bunda yang tadi pagi sempat menyiapkan bekal, dan suara ayah yang sempat berpesan, “Jangan begadang, Kia,” kini menghantam batinnya berkali-kali.  

“Kalau saja aku ikut… mungkin aku bisa...” Adzkia terisak, kalimatnya terputus. Rasa sesal, kehilangan, dan kosong bercampur jadi satu, meninggalkan luka yang tak tahu bagaimana harus ia sembuhkan. Kakaknya, Defdan mengusap kepala Adzkia pelan, berbisik lirih, “Jangan salahkan dirimu. Ini takdir Allah. Kita harus kuat demi ayah dan ibu.” Di bawah rintik hujan, dua bersaudara itu berdiri berpelukan di samping nisan, menahan perih yang tak ada obatnya. 

Hari-hari setelah itu, rumah terasa sunyi. Tidak ada lagi suara ayah yang selalu menanyakan kabar skripsinya, tidak ada lagi senyum lembut ibu yang rajin menyiapkan sarapan. Semua lenyap, berganti kesepian. 

 Adzkia bersyukur punya tiga orang yang selama ini ia percaya: kak Defdan; Nisa, sahabat karibnya sejak SMA; dan Raka, kekasih yang sudah dua tahun menjalin hubungan dengannya. “Tenang ya, Kia,” ucap Raka sambil menggenggam tangannya suatu sore. “Aku ada di sini buat kamu. Jangan pikir kamu sendirian”. Adzkia menatap wajah Raka yang selalu berhasil memberinya rasa aman. Meski matanya sembab, bibirnya mencoba tersenyum. 

“Kalau nggak ada kamu sama Nisa, aku nggak tahu harus gimana…” Nisa, dengan pelukan hangatnya, juga selalu menenangkan. “Aku sahabatmu, Kia. Dari dulu kita bareng, dan sampai kapanpun aku nggak bakal ninggalin kamu”. Ucapan itu membuat Adzkia sedikit lega. Setidaknya, ada orang-orang yang masih peduli padanya. 

Namun, ketika semua orang kembali ke rutinitas masing-masing, Adzkia justru semakin merasakan sunyi di rumahnya. Setiap sudut seperti mengingatkannya pada ayah dan ibu. Dapur, tempat yang paling sering ia temui ibunya, kini terasa kosong. Hanya aroma bumbu yang masih tersisa di rak-rak kayu. 

Suatu sore, ia duduk lama di kursi dapur, menatap panci dan wajan yang dulu sering digunakan ibunya. Dari situlah muncul keraguan dan juga keberanian: warung sederhana peninggalan ibunya—yang biasanya ramai oleh pelanggan—haruskah ia lanjutkan? 

Awal mengelola warung, Adzkia merasa lelah dan berpikir untuk menutup warung saja. Tapi setiap kali ia ingat senyum ibunya di balik dapur, hatinya goyah. Warung itu bukan sekadar tempat jualan, tapi peninggalan terakhir sang bunda. Selain itu sejak kedua orang tuanya tiada, Adzkia harus membagi waktu antara kuliah, mengurus rumah, dan menjaga warung.  

Keesokan harinya, menjelang siang, warung kecil itu sudah buka. Uap panas dari panci besar berisi kuah soto mengepul, bercampur aroma serai, bawang putih goreng, dan suwiran ayam kampung. Di meja panjang terjejer mangkok-mangkok putih berpinggiran biru, khas warung sederhana. 

Seorang pelanggan lama datang: Pak Karyo, pensiunan guru yang sudah puluhan tahun jadi pelanggan setia sejak zaman almarhumah ibu mereka. Ia duduk, menyalakan rokok kretek, lalu berseru: “Kia, kayak biasa ya, satu soto ayam pakai koya banyak”. Dengan cepat Adzkia menyiapkan. Ia tuang kuah bening kekuningan, menaburkan seledri, bawang goreng, lalu menyodorkan semangkuk soto hangat. Tapi begitu suapan pertama masuk, wajah Pak Karyo langsung berubah. “Hmm…” ia mengunyah perlahan, kening berkerut. “Kia… ini rasanya beda. Kuahnya agak hambar, nggak ‘nendang’ kayak buatan ibumu dulu. Dulu itu, baru hirup kuah aja langsung bikin keringat deras. Sekarang… kurang mantap”. Nada suaranya lembut berwibawa. Adzkia tercekat. Tangannya refleks meremas celemek. “Maaf, Pak… mungkin aku tadi kurang bumbu…” “Kia, memasak itu bukan sekadar takaran. Ada jiwa yang ikut masuk. Kalau kamu kehilangan itu, pelanggan pun ikut pergi. Hati-hati, nak… warung ini bisa hilang kalau rasanya terus begini”. 

Setelah membayar, Pak Karyo pamit. Tapi ia meninggalkan mangkuk dengan sisa kuah lebih dari separuh, padahal biasanya habis sampai tetes terakhir. Adzkia menatapnya lama, perasaan sesak menyelimuti dada. Pak Karyo menghela napas berat, suaranya lembut tapi menusuk. “Kia, bapak ngerti kamu berusaha. Tapi warung ini hidup dari kuah sotonya. Kalau rasanya berubah, pelanggan lama bisa pergi. Warung ini bisa kosong”. Adzkia terduduk di kursi dapur setelahnya, dadanya sesak. Kata-kata Defdan semalam kembali bergaung: “Kalau kamu larut dalam kesedihan, warung ini benar-benar akan mati. Bukan karena masakanmu, tapi karena kamu menyerah”. 

Tapi bagaimana ia bisa melawan rasa takutnya, kalau setiap sendok kuah sotonya justru membuat orang kecewa? Banyak pelanggan yang sebenarnya datang karena sudah terbiasa dengan masakan ibunya. “Sotonya enak sih, Ki… tapi ada yang hilang, buatan almarhum ibumu, rasanya lebih nendang,” ujar pak Harun (pelanggan setia) sambil tersenyum tipis. Ucapan itu menamparnya.  “Maaf, Pak… saya masih belajar menyesuaikan resepnya.” Bapak itu mengangguk, tidak bermaksud menyakiti. Tapi ucapan itu terus terngiang di telinga Adzkia. Dari meja lain, terdengar bisik-bisik para pelanggan “Iya ya, rasanya beda banget sekarang”.  “Sayang ya, dulu warung ini selalu rame”.  Bisikan itu membuat dada Adzkia sesak. 

Siang itu warung soto agak sepi. Hanya ada dua meja terisi. Dari kejauhan, seorang perempuan bertubuh gempal dengan kerudung lusuh masuk sambil menenteng keranjang anyaman. Itu Bu Minah, pedagang sayur yang sejak dulu sering mampir setelah berjualan di pasar. “Kia, satu porsi soto ayam, panas ya! Kuahnya jangan pelit!” serunya lantang sambil duduk dan mengibas-ngibaskan tangan kepanasan. Adzkia tersenyum kaku, lalu menyiapkan pesanan. Begitu mangkuk soto tersaji, Bu Minah langsung menyeruput kuahnya. Baru dua sendok, alisnya mengerut. “Lho, kok gini rasanya?!” katanya keras, sampai beberapa pelanggan lain menoleh. “Kuahnya hambar, nak. Ibumu dulu bikin soto, orang pasar kayak aku bisa makan sampai keringetan, segar! Ini kok kayak air rebusan ayam doang.” Adzkia tertegun, pipinya memanas. “M-maaf, Bu… mungkin kurang bumbu…” Bu Minah meletakkan sendok agak keras ke mangkuk. “Kurang bumbu? Kurang hati, Kia! Masak itu harus pakai hati. Kalau begini, pelanggan bisa lari semua. Warung soto tanpa rasa, sama aja kayak pasar tanpa pembeli”. 

Beberapa pelanggan lain mulai berbisik-bisik, ada yang manggut-manggut setuju. “Ya, betul, rasanya memang beda dari dulu…” terdengar samar dari meja pojok. Adzkia menunduk, jemarinya meremas celemek lusuh. Suasana warung yang biasanya riuh, kini terasa sesak oleh bisik-bisik itu. Malamnya, Adzkia menangis di dapur. “Ibu… beda tangan memang beda rasa, ya? Aku nggak bisa gantiin ibu. Aku takut warung ini kehilangan jiwanya.. “. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya. Ia buru-buru masuk ke dapur, meletakkan sendok di meja, lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. “Bu… aku nggak sanggup. Kenapa semua orang terus membandingkan aku sama ibu? Aku cuma pengen nerusin warung ini, tapi kenapa rasanya aku selalu gagal….Bu… kalau aku terus berusaha meniru, aku nggak akan pernah jadi ibu. Tapi kalau aku berhenti, warung ini juga akan hilang. Aku harus gimana?” 

Besok malamnya, pintu dapur berderit pelan. Defdan berdiri di ambang pintu dengan wajah kesal. “Kia… nangis lagi? Aku udah bilang, kalau kamu nggak bisa masak seenak ibu, ya udah… tutup aja warung ini”. Adzkia menoleh cepat, matanya basah. “Mas, jangan ngomong sembarangan! Warung ini kenangan ibu. Kita nggak bisa gitu aja nutup”. Defdan melangkah masuk, nada suaranya meninggi. “Kenangan nggak bikin perut orang kenyang! Kamu pikir pelanggan bakal peduli sama kenangan? Mereka datang buat rasa, bukan buat air mata kamu!” “Mas!” Adzkia membentak untuk pertama kalinya, “Kenapa selalu nyalahin aku? Aku udah berusaha! Aku nggak pernah tidur nyenyak demi masakan ini!” Defdan menggebrak meja, sendok yang tadi ditaruh Adzkia sampai terjatuh. “Berusaha? Hasilnya mana? Orang-orang pulang kecewa! Mereka bisik-bisik bilang, ‘anaknya nggak bisa kayak ibunya’. Kamu tega bikin nama ibu jelek karena maksa?” Adzkia gemetar, wajahnya memerah. “Mas nggak ngerti! Aku juga sakit hati tiap kali dibanding-bandingin! Tapi kalau kita nyerah, apa ibu nggak makin kecewa lihat kita pecah kayak gini?” 

Suasana dapur memanas, hanya suara detak jam dinding yang terdengar di sela-sela napas mereka berdua. Adzkia menunduk, air matanya menetes di celemek lusuh peninggalan ibunya. Defdan berdiri beberapa langkah darinya, napasnya masih tersengal karena emosi. Namun perlahan suaranya melembut, ga tega melihat adiknya sendu, “Kia… aku keras bukan karena benci kamu. Aku cuma takut lihat kamu hancur dan sakit. Kamu nggak bisa terus begini, nangis tiap malam, nyalahin diri sendiri.” Adzkia mendongak pelan, menatap kakaknya. “Kak… aku cuma pengen jadi kayak ibu…” Defdan menghela napas panjang, lalu duduk di kursi kayu dekat meja. “Kamu nggak akan pernah bisa jadi ibu. Dan itu bukan salahmu. Kalau kamu terus larut dalam kesedihan, warung ini benar-benar akan mati. Bukan karena masakanmu, tapi karena kamu menyerah”. Ia menatap adiknya dalam-dalam. “Kalau memang mau nerusin warung ini, jangan cuma meniru ibu. Cari caramu sendiri. Tambahin rasa kamu, jiwa kamu. Itu baru namanya hidupin warung, bukan sekadar jaga kenangan”. Adzkia merasa “Kakak cuma bisa ngomong, nggak ngerasain capeknya tiap hari di dapur”, sementara Defdan merasa “Aku kerja jauh buat biayain kebutuhan rumah, kamu di sini malah terpuruk.”  Adzkia terdiam. Hatinya masih sakit, tapi kata-kata Defdan menusuk lebih dalam daripada bentakan barusan. Mempertimbangkan kalau memang masuk akal juga saran kakaknya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Koma (written by Henny)

Cerpen Romantis: First Love

Refleksi Dua Jiwa (written by Henny)