Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Ketukan di Pintu Malam Itu (written by Henny)

Gambar
    “Haatchuuh!” Alex bersin sampai tisu di meja ikut terbang. Andin, yang mendengar dari dapur, langsung panik. Ia berlari membawa sendok kecil berisi obat cair. “Bang, minum ini dulu, please.” Alex menghela napas berat. “Din, abang cuma masuk angin biasa. Nggak perlu drama.” Andin berkacak pinggang. “Masuk angin apa? Bersinnya kayak mau manggil setan!” Meski awalnya menolak, akhirnya Alex pasrah disuapi. Ia meringis ketika rasa pahit menyentuh lidahnya. Andin menepuk punggungnya bangga. “Tuh kan. Nggak mati juga.” Mereka berdebat kecil, dan tepat di tengah adu mulut—“Haatchuuh!!” kini giliran Andin bersin keras. Entah karena droplet pertengkaran mereka, entah karena Andin lupa pakai masker, yang jelas… beberapa jam kemudian mereka berdua tumbang demam. Riko menemukan keduanya terkapar lemas di kamar. “Wah… sakit massal. Mantap.” “Diam, Rik…” Alex melotot lesu. Bu Yem—yang biasanya hanya dipanggil dua minggu sekali untuk bersih-bersih—akhirnya turun tangan merawat tiga bocah ...

Dari Lapak Kecil ke Mimpi Besar (written by Ary-sensei)

Gambar
  Sari tidak pernah membayangkan bahwa hidup di kota akan begitu berat. Ia datang dari sebuah desa kecil dengan membawa harapan besar: mendapatkan pekerjaan dan membantu keluarganya. Namun kenyataan tak selalu seindah mimpi. Ia sudah menyebar banyak lamaran, tetapi tak satupun membuahkan hasil. Uang tabungannya semakin menipis, dan ia harus puas tinggal di sebuah kamar kos sempit dengan jendela kecil yang hampir tak pernah dilewati cahaya matahari. Setiap malam, Sari duduk di tepi kasurnya yang tipis sambil memikirkan apa lagi yang bisa ia lakukan. Suatu ketika, aroma kue yang dibuat ibu di kampung terlintas dalam ingatannya. Ia teringat bagaimana ia dulu suka membantu menggulung adonan, menaburkan gula halus, dan menunggu loyang keluar dari oven tua keluarga mereka. Kenangan itu menyalakan sebuah ide kecil dalam hatinya—ide yang mungkin bisa mengubah hidupnya. Dengan sisa uang yang ada, Sari membeli bahan sederhana: tepung, gula, margarin, dan sedikit coklat. Malam itu, ia membuat...

Yang Tak Pernah Aku Katakan (written by Ary-sensei)

Gambar
  Aku masih ingat pertama kali melihat Ardan—di lorong kampus, saat ia menunduk sedikit sambil tersenyum ramah kepada seseorang. Senyum itu… entah kenapa, langsung masuk begitu saja ke hatiku. Sejak hari itu, namanya seperti menempel di pikiranku. Bukan karena ia sempurna, tapi karena setiap geraknya seperti punya ketenangan yang membuatku ingin berhenti sebentar dan memperhatikan. Sayangnya, semesta tidak sedang berpihak padaku. Ardan sudah punya pacar. Bukan sembarang pacar—Rania, perempuan cantik dengan segala keanggunan yang membuatku tidak berani membandingkan diri sendiri. Mereka terlihat cocok. Mereka terlihat bahagia. Dan aku? Aku hanya penonton yang berusaha meredam perasaan sendiri. Namun ada satu hal yang tidak kuketahui waktu itu: Ardan sering memperhatikanku juga. Diam-diam. Dari jauh. “Aku juga suka kamu… dari dulu.” Pelan-pelan. Tanpa terburu-buru. Dan aku? Aku menemaninya dari jarak yang sehat, memberi ruang, memberi waktu. Tidak ada hubungan instan setelah patah...

Ketika Langit Menata Hati (written by Ary-sensei)

Gambar
     Namaku Nara. Sejak SMA, aku punya kebiasaan aneh—aku suka sekali baca ramalan zodiak dan shio. Bukan sekadar iseng; aku benar-benar percaya bahwa kecocokan hubungan bisa dilihat dari bintang dan tahun kelahiran. Mungkin karena aku tumbuh dengan trauma. Kedua orang tuaku selalu bertengkar, saling menyalahkan, sampai akhirnya berpisah dengan cara yang meninggalkan luka dalam di hatiku. Sejak itu, aku bertekad: aku ingin suami yang sempurna . Bukan seratus persen tanpa cacat, tapi yang benar-benar cocok denganku. Menurut banyak artikel yang kubaca, pasangan paling cocok untuk zodiakku—Virgo—adalah Pisces. Dan menurut perhitungan shio, yang paling bagus adalah Ular Tanah. Mungkin kedengarannya konyol, tapi buatku itu seperti jaminan kecil bahwa pernikahanku nanti akan jauh lebih baik dari pernikahan orang tuaku. Masalahnya… hidup tidak semudah ramalan online. Aku mencari bertahun-tahun, tapi tidak pernah bertemu seseorang yang memenuhi semua “syarat semesta” itu. S...

Si Anak Basket (written by Ary-sensei)

Gambar
      Pertandingan basket hampir dimulai. Sport hall kampus STIBA mulai riuh, penuh dengan penonton yang sebagian besar anak-anak SMA dan SMK yang mengikuti STIBA BASKETBALL TOURNAMENT 2024. Semua panitia dan petugas yang bertugas di lapangan sudah siap di posisi mereka masing-masing. Karena 4 tim akan bertanding hari ini, pertandingan pertama dimulai jam 15.30.     Aku siap dengan kamera di tanganku. Untuk kesekian kalinya aku menjadi bagian dari tim Dokumentasi bersama Nanda yang sudah siap dengan Handycam dan Rendy yang sudah siap dengan kameranya untuk bagian Youtube live streaming. Aku melirik ke arah Hiroshi yang hari itu menjadi komentator pertandingan. Seperti biasa, dia terlihat sporty dan ganteng sekali. Kekagumanku padanya dimulai sejak kami berada di UKM Basket ini, sering ngobrol dan berbagi pengalaman. Selain jago basket, dia juga keren sebagai komentator pertandingan.     MC mengumumkan bahwa pertandingan akan segera dimulai. Semua penon...