Ketukan di Pintu Malam Itu (written by Henny)
“Haatchuuh!” Alex bersin sampai tisu di meja ikut terbang. Andin, yang mendengar dari dapur, langsung panik. Ia berlari membawa sendok kecil berisi obat cair. “Bang, minum ini dulu, please.” Alex menghela napas berat. “Din, abang cuma masuk angin biasa. Nggak perlu drama.” Andin berkacak pinggang. “Masuk angin apa? Bersinnya kayak mau manggil setan!” Meski awalnya menolak, akhirnya Alex pasrah disuapi. Ia meringis ketika rasa pahit menyentuh lidahnya. Andin menepuk punggungnya bangga. “Tuh kan. Nggak mati juga.” Mereka berdebat kecil, dan tepat di tengah adu mulut—“Haatchuuh!!” kini giliran Andin bersin keras. Entah karena droplet pertengkaran mereka, entah karena Andin lupa pakai masker, yang jelas… beberapa jam kemudian mereka berdua tumbang demam. Riko menemukan keduanya terkapar lemas di kamar. “Wah… sakit massal. Mantap.” “Diam, Rik…” Alex melotot lesu. Bu Yem—yang biasanya hanya dipanggil dua minggu sekali untuk bersih-bersih—akhirnya turun tangan merawat tiga bocah ...