Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Cinta Joy Untuk Hope (written by Ary-sensei)

Gambar
  Malam itu tak kan pernah dilupakan oleh Hope dan Joy, sepasang kekasih yang tak lama lagi menggelar pesta pertunangan mereka setelah lima tahun mereka berpacaran. Rencana yang telah disusun dengan rapi bisa jadi akan kandas setelah semua itu terjadi. Malam itu, Hope memegangi tangan kekasihnya yang terkulai tak berdaya di pembaringan rumah sakit. Matanya belum terbuka sejak dia masuk rumah sakit dan menjalani serangkaian perawatan. Hope menahan air matanya, menahan perih di hatinya. Dia hanya ingin ada di sisi Joy, kekasihnya, yang harus mendapat perawatan intensif di ruang IGD. “Silakan menunggu di luar ya mas,” kata seorang perawat dengan sopan, “kami akan melakukan beberapa pemeriksaan pada pasien.” Hope mengangguk lalu keluar ruangan sambil sesekali menyeka air matanya. Keluarga Hope segera menghambur mendekati Hope ketika pria itu keluar dari ruang IGD. “Bagaimana kondisi Joy?,” tanya mama Reni cemas. Dengan terbata Hope berkata, “Belum membuka matanya, terlihat lema...

Cinta Yang Tak Pernah Usai (written by Henny)

Gambar
  Malam itu, Bagas kembali merapikan selimut yang menutupi tubuh Andini. Tubuh yang dulu begitu lincah, kini hanya bisa terbaring lemah. Sudah hampir dua tahun sejak kecelakaan motor itu merenggut sebagian besar keceriaan hidup mereka. Andini, istrinya yang cantik dan penuh tawa, kini lumpuh dari pinggang ke bawah. “Mas, nggak usah repot-repot. Aku masih bisa tarik selimut sendiri,” ucap Andini lirih. Bagas tersenyum tipis. “Selimut segede gini aja bikin kamu susah napas. Udah, biar aku aja.” Andini terdiam. Sejak kecelakaan itu, rasa bersalah terus menghantam hatinya. Malam itu mereka pulang dari menghadiri pernikahan teman kuliahnya. Andini yang saat itu duduk di belakang motor, tanpa sadar menjatuhkan tas kecilnya ke jalan. Ia panik, minta Bagas berhenti. Dan justru saat berhenti itulah sebuah mobil dari arah belakang menabrak mereka. Bagas hanya luka ringan, tapi Andini mengalami patah tulang belakang yang membuatnya lumpuh permanen. Dunia mereka seakan runtuh sejak saa...

Oden Kyoto Terenak (written by Ary-sensei)

Gambar
  Sore itu hujan cukup deras. Wati dan anaknya memilih berteduh di depan sebuah mini market . Reyno kecil mulai merajuk sambil terus memandangi etalase makanan dari luar toko. “Ibuuuuu…aku lapar,” rengek Reyno kecil. Wati mulai bingung. Dia ingat uangnya tak banyak. Jualan gorengan hari itu belum terjual semua karena hujan turun dengan derasnya sehingga dia dan Reyno tidak bisa lanjut berjualan. “Ehm…makan gorengan ibu saja ya?” rayu Wati dengan wajah gusar. Reyno mulai ngambeg dan terus memandang etalase makanan itu. Seorang wanita rupanya memperhatikan Reyno sejak tadi. Dia merasa iba, tapi dia ingin melihat reaksi ibu dan anak itu untuk beberapa saat. Wati berkali-kali merayu anaknya tapi Reyno tetap tidak ingin memakan gorengan jualan ibunya. Tiba-tiba wanita itu mendekati Reyno. “Hai…pengen beli kue yang di dalam itu?” tanyanya dengan ramah. Reyno melihat ke arahnya, lalu mengangguk. Wati memandangnya dengan heran, tapi segera tersenyum melihat keramahan wanita itu. “Y...